Hai teman-teman...

Kami ingin berbagi dan saling menguatkan para pelaku seni, pekerja seni dan elemen terdampak lain.

Silahkan tuliskan keresahan serta kondisimu selama pandemi Covid-19 ini. Keluh kesahmu akan jadi sebuah reportase dengan harapan bisa didengar pemerintah. 

Tuliskan keresahan dan harapanmu di kolom komentar di bawah ini, bisa berupa Link Video, Facebook, IG dan Twitter atau tulisan langsung disini. Bisa juga dengan mengirimkan tulisan ke bareng@sakseni.id 

Terima kasih.

Kika Syafii

Kika Syafii

Pecinta seni, pelaku pariwisata sekaligus pelaku seni kemanusiaan.

12 Responses

  1. Turut prihatin & hny dpt brdoa serta menyemangati, jg mnsupport prgm pmerintah yg trbaik utk warganegaranya. Kami jg pasangan seniman yg hmpr 4thn ini memutuskan mjd freelancer/honorer jg berwirausaha kerajinan seni & fesyen. Sblm wabah covid kami jg sdh kesulitan memasarkan produk seni kami walau sdh join dgn ukm & berpameran. Covid ini trlebih lg, musti putar otak & banting stir brjualan panganan jg, utk bertahan hidup, apalg membayar tagihan² bulanan, blm lg kbutuhan ank sklh

    1. Iya, covid ini sudah memakan begitu banyak waktu dan materi. Sembari bersabar dan tetap berusaha, kita ikhtiarkan apa yang kita bisa untuk menyuarakan kesulitan ini..

  2. Memasuki bulan ke enam, Agustus 2020, Pegiat seni khusus nya seni pertunjukan teater bertahan di rumah untuk membantu pemulihan covid19. Situasi ini sangat menumpulkan kerja kreatif kelompok dan dampak ekonomis. Meski dalam kondisi normal, pekerja teater seringkali masih nombok untuk memperjuangkan karya, tapi paling tidak masih terbuka ruang dan kesempatan subsidi silang dari pekerjaan yang lain. Namun situasi saat ini, tak mampu membuat kedua hal itu terjadi. Lebih memilukan bagi seniman teater yang sudah berkeluarga dan punya tanggungjawab anak. Tentunya lebih miris. Tak ada jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan kecuali berharap sumbangan dari berbagai pihak dan negara. Sayangnya, pemerintah urusan teknis, begitu lamban menyalurkan dana bantuan. Entah apa masalahnya. Bahkan Omelan presiden tak mampu menerabas kelambanan kerja yang mereka lakukan. Padahal bila tersalur dengan baik dan cepat. Maka sejumlah masalah keuangan mendasar bagi seniman pastinya akan sedikit terbantu dalam kondisi darurat ini.

  3. Sebagai penulis buku, saya ikut terdampak pandemi. Buku yang mestinya naik cetak jadi tertunda sampai waktu yg tidak ditentukan. Karena percetakan milik penerbit masih kena PSBB.
    Buku hanya diterbitkan dalam versi digital, yang ternyata kurang diminati. Padahal yang sudah pre order buku versi cetak cukup banyak. Tapi jadi kabur semua dan tak ada pembelian sama sekali akibat belum bisa dicetak penerbit. Ebook? Sepiiiii. Orang Indonesia masih lebih suka versi cetak.

  4. Maret, 2020 – Ada satu dua hal yg mungkin tdk terlalu menjadi concern dlm badai pandemi ini, salah satunya adalah bagaimana membuat makhluk #dirumahAja. Apalagi utk makhluk-makhluk ekraf, seni, budaya yg nature nya emang makhluk ngariung. Kudu keluar utk ketemu sejawat, ngopi bahas ide, kudu nonton, main utk cari referensi atau naikin mood, atau kudu naik ke panggung. Sekarang semua berubah.

    Padahal peran makhluk2 tsb esensial, kita #dirumahbae dengerin musik, nonton film, tarian, dll. Gmn rasanya #dirumahwae ga ditemenin karya2 tsb.

    Yang banyak dilakukan era skrg adalah kampanye dan himbauan ttp #dirumahlah ya gpp cuma ya jadi streotipe dari seleb dari otoritas, akhirnya cepat atau lambat ya jadi sekedar angin lalu, gak tau bisa pada tahan ga.

    Bahwa makhluk2 tsb dalam frekuensi kehilangan event, pameran, panggung pada hakekatnya gpp dan ga seberapa. Dibanding perihal kesehatan, bumi dan lingkungan, dan atas nama kemanusiaan. Mungkin mmg dapat dimaknai juga sebagai momen jeda sementara. Namun bagaimana membuat #dirumahajadong menjadi lebih berfaedah, produktif, dan saling menginspirasi itu yg luput dibicarakan. Maka kami hadir menelurkan gagasan #BerkaryaDariRumah, utk menemani kalyan selama #dirumahAjayo, utk saling menginspirasi, juga utk berjejaring hingga membeli/bekerjasama dengan karya dari mereka. Bagaimanapun semoga badai ini lekas berlalu. Puntaklamun!

  5. Di mana kita bisa berkeluh kesah dan kepada siapa kita bisa bicara Seni sedangkan memikirkan hidup saja susah di mana pelindung seni di mana kita bisa berkerja seni sedangkan yang berkepentinggan saja tidak peduli denggan seniman kecil yang selama ini nenggandal kan dari menggajar mukin hannya tuhan yang maha r esa yang bisa kita minta perlindunggan ya . Ya alloh ya tuhan ku berikan kami perlindungga di dunia yang fana ini hanin hamin ya robalallamin.

  6. Kita semua punya masalah. Tapi terus terang saja, ketila saya membaca semua isi postingan dari laman kesah ini, saya merasa bahwa “drama” keluh kesah ini terlalu dramatis. Jika kaum seniman berkeluh tentang hidupnya, bayangkan lapisan sosial yg 40an juta dlm skala kemiskinan yg lebih dari kesulitan kaum seniman.
    Ironi dari kaum seninan, sementara dirinya mengeluh, pada sisi lain begitu banyak eforia melalui webinar yg entah apa gunanya.
    Saya merasa, harusnya kaum seniman melakukan kritik terhadap kaum seniman yg melakukan eforia itu.

    1. Saya paham, semua orang punya masalah yang sama saat ini. Kesulitan ekonomi dan kematian mengancam. Hanya saja, kami berusaha apa yang bisa kami lakukan Pak..

      Saat ini seperti inilah yang kami lakukan, menyuarakan atas semua keresahan.

      Mari Pak Halim, kita saling dukung. Apa yang bisa kami dukung untuk bidang Bapak 🙂

  7. Painting art juga kena dampaknya, akhir maret lalu saya mengerjakan painting untuk pengerjaan taman di pantai Ancol. Baru 5 hari saya bekerja , proyek dihentikan sebab pemberlakuan PSBB DKI yg pertama. Saya diberitahu mungkin proyek dilanjutkan sampai waktu yg belum ditentukan kepastiannya kapan. Di komunitas pelukis pun sempat akan diadakan event Guinnes Worl Record untuk 1000 pelukis melukis wajah pejabat yg rencananya dilaksanakan pertengahan Maret 2020 di Ciputat, itu pun harus meleset lagi keburu geger pandemi covid-19 di awal maret. Dan belum tahu kapan boleh dilaksanakan, ngambang lagi nasib kita. Entah sampai kapan ?
    Yang jelas pegiat seni dan pelaku pariwisata terdampak sekali sebab pandemi ini, perekonomian kami mandek 3 bulan lebih. Keluarga mulai gelisah, kepastian tak kunjung datang. Dan itupun dirasakan juga oleh pekerja-pekerja seni di daerah. Kesenian tarling, burok, panggung dangdutan untuk hajatan, photografer pengantin, penyewa sound system, semua mulai resah.
    Tolonglah untuk pemerintah beri kami solusi untuk berkesenian lagi, mungkin di jalan ini kami sebelumnya mengais rejeki.

  8. sebelumnya terimakasih dikasih kolom ini, saya sbagai perupa di daerah ikut merasakn dampak covid_19, utk berkarya tyg sipatnya spektakuler tdk bisa saya jalani sendiri…ngomong sana sini gk ada yg respon. sampai saya usul ke org no 2 di kabupaten tetap saja gk respon…ngomongnya saja ttg seni…haulnya sama org seni …begitu saya tawarkn program hnya skedar minta cat tembol saja gk ada respon…padahal tahu kalo karya2 saya utk acara berita di tv…ternyata tdk semua dpt berapresiasi….hanya omong doa g

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *