Pandemi Membuat Pekerja Film di Indonesia Jatuh Tertimpa Tangga

Di balik glamornya kehidupan para selebriti penghias layar perak, ada derita yang seperti tersembunyikan di balik layarnya. Ya, mereka adalah pekerja film yang kehidupannya bisa dibilang berbanding terbalik dengan keglamoran selebriti.

Sebelum membahas nasib para pekerja film, sebaiknya memang mengetahui kondisi industri perfilman nasional lebih dulu. Memang saat ini bisa dikatakan industrinya sedang bergairah, karena setiap bulannya bermunculan banyak judul film baru bersaing dengan film Hollywood di bioskop.

Namun, gairah tersebut dibilang sekedar sentuhan erotis tanpa klimaks, karena faktanya aksi pembajakan masih marak. Begitupun di saat pandemi COVID-19.

Selain software dan produk konsumen, Indonesia memang menempatkan tingkat pembajakan yang serius konten film. Ketika teknologi berkembang, aksi pembajakan ini semakin mudah dilakukan dan peminatnya cukup banyak.

Sekarang, masyarakat tidak perlu lagi datang Glodok, pedagang kaki lima atau mal pinggiran untuk membeli DVD film bajakan. Cukup duduk manis di rumah, buka laptop dan mengorbankan kuota internet, nonton film Indonesia apa pun bisa.

Ya, saat ini harus diakui di Indonesia menjadi negara menjamurnya situs-situs pengedar film ilegal. Jumlahnya tidak sedikit, mencapai ratusan.

Seperti dikutip dari Mojok.co, Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) Fuazan Zidni mengatakan, tahun 2017 pembajak film telah merugikan pekerja industri kreatif di Indonesia hingga US$ 209 juta atau sekitar Rp 3 triliun.

Pada bulan Mei 2018, angkanya kerugiannya makin fantastis, yakni mencapai Rp 1,5 triliun per tahun hanya dari aksi pembajakan di 4 kota saja, yakni Jakarta, Medan, Bogor, dan Deli Serdang. Hal ini berdasarkan riset yang dilakukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia di 4 kota tersebut.

Meskipun Aprofi telah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk memblokir sebanyak 250 situs pembajak film, tetap saja mereka seperti tidak ada habisnya. Banyak dari pengelola situs-situs tersebut yang mengganti domain untuk membuat situsnya tetap bisa diakses masyarakat.

Lalu apakah pembajakan dengan medium cakram berakhir? Tidak juga. Akhir Maret 2018, terjadi kasus pembajakan besar-besaran film Dilan 1990 karya Fajar Bustomi.

Ody Mulia, sang produser, mendengarkan laporan dari salah satunya rekannya mengenai adanya DVD bajakan film tersebut di Cirebon, Jawa Barat. Dia bahkan melakukan penggerebekan itu secara pribadi di sebuah toko yang menjual DVD tersebut.

Ternyata bukan cuma Dilan 1990 saja, dia juga mendapati banyak DVD bajakan dari beberapa judul film Indonesia. Akhirnya, dia berinisiatif melaporkan kasus itu ke pihak kepolisian agar pelaku jera.

Merambah Media Sosial

Sialnya, aksi pembajakan ini bukan cuma datang dari orang yang memang ingin mengeruk keuntungan, masyarakat pengguna media sosial juga sering menjadi pelaku. Demi eksistensi tidak sedikit pengguna media sosial melakukan perekaman video maupun foto ketika menonton di bioskop untuk kemudian diposting di akun media sosialnya.

Lebih parahnya lagi, banyak kalangan pesohor seperti influencer dan selebgram yang melakukan aksi perekaman tersebut hanya demi konten. Padahal, sebelum film diputar, pihak bioskop sudah jelas-jelas memberikan pengumuman mengenai sanksi hukum atas pembajakan yang dilakukan penonton. Duh!

Asal tahu saja, jika melakukan perekaman adegan film di bioksop, berarti pelakunya melanggar dua Undang-undang (UU) yang berlaku di Indonesia, yaitu UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Tak main-main, yang melanggar UU ini bisa terancam hukuman 10 tahun penjara dan atau denda Rp 4 miliar.

Syahrini dan postingan IG Story-nya (foto: Instagram/princessyahrini)

Nah, di tengah pandemi COVID-19, di mana akhirnya pengelola bioskop harus menutup usahanya sebagai efek pemberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), akhirnya memaksa produksi film Indonesia terhenti hingga berbulan-bulan lamanya. Menurut Joko Anwar, salah satu sineas Indonesia, setidaknya ada 30 film yang terpaksa menghentikan produksinya selama pandemi.

“Sekitar ada 30 produksi yang terhenti, kalau kita lihat kan setiap tahunnya ada 140 judul kira-kira. Jadi setiap bulannya ada sekitar 10 film yang naik layar ke bioskop,” ungkapnya dalam live streaming YouTube Let’s Talk yang digelar pada Mei lalu.

Lalu berapa kerugian yang harus ditelan pelaku industri perfilman di Indonesia? Menurut Joko, tahun 2019, Indonesia berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp 2 triliun. Jadi jika, dihitung kerugiannya ada sekitar angka tersebut kalau ditoal semua pemasukan yang hilang.

“Dalam setahun tidak produktif membuat film, seperempatnya dalam 12 bulan kalau tidak produktif ada sekitar Rp 500 miliar kita rugi,” pungkasnya.

Mengenai aksi pembajakan yang masih marak, sutradara Janji Joni ini juga pernah memposting mengenai bagaimana jerih payah para kru dan pemain film di lokasi syuting dalam memproduksi film.

“Kru dan pemain film kerjanya nggak glamor. Jam 3 pagi udah bangun, jam 4 pagi udah di lokasi syuting, masuk hutan, ngelakuin adegan berbahaya, mempertaruhkan kesehatan bahkan nyawa, makan debu, istirahat di mana aja termasuk trotoar, ada yang jauh kecapean, ada yang masuk rumah sakit, semua kerja keras demi karya,” tulisnya di caption dengan unggahan foto beberapa proses syuting dan penderitaan para pembuat film dan pemainnya.

Lewat postingan tersebut Joko juga mempertanyakan rasa kemanusiaan para pembajak film. Menurut dia, aksi pembajakan saat ini dianggap normal dan bahkan dilakukan tanpa malu-malu.

“Tarohlah kalian nggak ada alokasi uang untuk nonton secara legal. Merasa lucu bilang kopi kalian murah lah. Tapi kalau kalian curi hasil kerja kami, kalian bajak dengan ketawa-ketawa? Di mana rasa kemanusiaan kalian,” tutupnya.

Kepedulian Platform Digital

Sebagai salah satu industri yang terdampak pandemi COVID-19, tentu saja industri perfilman nasional bak mati suri sejak PSBB dimulai. Tidak ada syuting dan film yang sudah diproduksi diundur perilisannya hingga waktu yang belum ditentukan.

Dengan tidak adanya kepastian aktivitas produksi film, tentunya membuat penghasilan para pekerja film juga tidak pasti. Hal ini dirasakan betul Badan Perfilman Nasional (BPI) yang menaungi lebih dari 50 asosiasi perfilman di berbagai daerah, seperti Yayasan Aceh Dokumenter, Jaringan Kerja Film Banyumas, hingga Asosiasi Dokumentaris Nusantara (ADN).

Ketua BPI, Chand Parwez Servia mengungkapkan sepanjang pandemi COVID-19, kegiatan produksi film benar-benar berhenti. Berdasarkan perkiraannya, kondisi ini menjadi masa paceklik bagi perfilman nasional selama kurang lebih satu tahun.

“Sepanjang tahun 2020, keseluruhan produksi film nasional yang bisa diselamatkan hanya 25% saja,” ungkapnya seperti dikutip dari Kompas.com, Minggu (29/3/2020).

Melihat kesulitan yang dihadapi para insan perfilman tersebut, Gojek melalui platform streaming-nya yang bernama GoPlay menggandeng BPI dengan kerja sama Kementerian Pariwisiata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk menggelar Festival Film dan Serial Online yang berlangsung 13 Mei hingga 30 Juni 2020.

Selama tujuh minggu berturut-turut GoPlay menyediakan deretan film Indonesia dengan tema-tema khusus. Mulai dari film drama percintaan Heart hingga film kontroversial Kucumbu Tubuh Indahku dihadirkan di platform tersebut.

Seperti disadur dari blog resmi Gojek, program tersebut akan menyisihkan 20% dari penjualan akses GoPlay untuk mendukung para pelaku industri film Tanah Air agar tetap bangkit di masa penuh tantangan ini.

CEO GoPlay, Edy Sulistyo mengklaim, sejak layanan ini menghadirkan free access selama masa #dirumahaja, ada peningkatan apresiasi terhadap film dan serial Indonesia yang ditunjukkan dengan naiknya engagement hingga 10 kali lipat. Itulah yang menjadi alasan pihaknya untuk memanfaatkan kenaikan tersebut untuk menggelar program mendukung pekerja film nasional.

“Kami ingin mendekatkan dan memperkenalkan masyarakat Indonesia terhadap konten Indonesia yang berkualitas sekaligus mendukung industri film Indonesia agar lebih kuat dari sebelumnya setelah pandemi berakhir,” ujarnya.

Hanya saja, jika dilihat-lihat, GoPlay merupakan platform streaming yang kurang populer dibandingkan platform seperti Netflix, Viu, dan iFlix. Di Google Play misalnya, Sakseni, Selasa (21/7/2020) mendapati informasi bahwa aplikasi ini baru diunduh sekitar 100 ribu pengguna.

Jadi, dengan asumsi biaya berlangganan Rp 45 ribu per bulan dari 100 ribu pengguna, GoPlay akan mendapatkan pemasukan sebesar Rp 4,5 miliar. Dari total pendapatan itu 20% didonasikan untuk pekerja film, jumlahnya mencapai Rp 900 juta.

Mengutip informasi dari Kompas.id, per 13 April 2020 ada sebanyak 226.586 pekerja ekonomi kreatif yang tersebar di 34 provinsi. Jika pekerja film diasumsikan sebesar 20% dari jumlah tersebut, maka yang donasi yang dapatkan dari GoPlay hanya sebesar Rp 79 ribuan per kepala.

Tanpa bermaksud mengecilkan bantuan tersebut, namun sepertinya para pekerja film di Indonesia masih membutuhkan insentif lain. Pasalnya, hingga saat ini saja belum ada titik terang kapan bioskop akan dibuka yang menjadi petunjuk mengenai ketidakpastikan pendapatan para pekerja film.

So, buat kamu yang menjadikan film sebagai hiburan di rumah selama pandemi, sebaiknya tonton film Indonesia dari platform streaming yang legal ya! Karena setiap durasi yang kalian tonton, ada kontribusi berarti bagi pekerja film.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara