Ige, Desainer Grafis yang (Terpaksa) Jadi Penjual Susu

Walau tawaran job freelance sepi, Ige Maulana Ashar masih sangat berminat melanjutkan karir sebagai desainer grafis. Empat bulan sudah ayah satu putra ini menganggur, akibat start up tempatnya bekerja melakukan efisiensi. Tapi dia tetap semangat dan optimis.

“Saya sekarang jualan Sukur, Susu Kurma,” jawabnya berbinar-binar. “Logo dan stiker di botol kemasannya saya bikin sendiri, sehingga ilmu desain grafis saya masih terpakai.”

Alumni Sekolah Tinggi Desain Interstudi Jurusan Desain Multimedia ini sama sekali tidak gengsi sesekali menjadi driver ojek online untuk menambah pendapatan rumah tangga. Dia masih rajin mengirimkan lamaran kerja ke berbagai perusahaan, apa daya yang banyak dicari justru desainer magang. Imbas pandemi Cobid-19 memang sangat terasa di dunia industri kreatif, termasuk desain grafis. Banyak perusahaan yang hanya memuka lowongan berstatus pekerjaan lepas atau magang saja, bukan karyawan.

“Ada juga teman-teman sesama desainer yang masih bekerja tapi tidak dibayar full. Sedangkan job freelance bisa dibilang sepi sekali,” ungkap Ige. 

Ige adalah satu dari desainer grafis yang kehilangan pendapatan dari bidang industri kreatif. Dia tidak lagi dapat mengandalkan skill sebagai desainer yang tergolong pekerja seni, untuk dapat bertahan hidup. Terpaksa harus banting setir menjadi driver ojol dan berjualan susu secara online. 

Menurut survei yang dilakukan  Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi sejak 20 Maret – 4 April, terjadi kehilangan pendapatan akibat pembatalan kerja sejak pandemi Covid-19. Yang terbesar di kisaran Rp5 juta – Rp15 juta (32,8 persen) dan > Rp1 juta – Rp5 juta (32,8 persen). Selain itu, ada juga yang harus kehilangan pendapatan > Rp15 juta – Rp30 juta sebanyak 16,8 persen hingga di atas Rp60 juta (3,6 persen).

Itu data yang terangkum awal April silam.  Untuk saat ini sudah pasti angkanya lebih besar lagi, mengingat semakin banyak perusahaan maupun start up yang terpaksa menutup bisnisnya. Efisiensi besar-besaran banyak dilakukan di berbagai bidang, termasuk bidang kreatif. 

Kalau ada program bantuan atau insentif dari pemerintah untuk pekerja seni, apakah Ige bersedia ikut? “Kalau saya bisa dan sanggup, pasti ikut,” jawabnya.

“Saya berharap pandemi ini cepat berakhir. Sehingga kembali banyak lowongan untuk desainer dan bidang kreatif lain. Tapi benar-benar untuk bekerja, bukan sekadar magang,” pemuda berkacamata ini menyampaikan harapannya. 

Ingin membantu Ige? Yuk bisa dibeli produk Sukur, Susu Kurma yang dijualnya di Instagram @dapoer.uchul.

Foto: Dokumentasi Ige Maulana Ashar

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara