Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke bawah yang lebih menderita,” begitu salah satu tanggapan sinis mereka.

Di kalangan awam, dunia seni identik dengan artis populer. Dianggap semua sudah berkecukupan, bahkan berkelebihan. Seni identik dengan hura-hura, gemerlap panggung, penuh sukacita selalu. Padahal dunia seni itu luas sekali. Dan tidak semuanya bertabur cahaya nan indah. Justru sebagian besar masih hidup sederhana, penuh dengan idealisme, tak tersentuh glamour sama sekali. Seniman adalah mereka yang hidup dari karya seni yang diciptakan. Sebut saja seniman musik, yang hidup di jalanan sampai kafe, restoran,hotel, hajat pernikahan. Atau penari tradisional, dalang, penabuh gamelan, pematung, dan banyak sekali seniman lain di pelosok-pelosok daerah.

Belum lagi pekerja seni semisal penata lampu, penata panggung, penata busana, penata rias, sampai penjual tiket, event organizer yang mengkoordinasi pertunjukan. Mereka semua tidak hidup mewah. Dan semua terdampak pandemi. 

Beruntung sudah ada panduan teknis protokol kesehatan khusus untuk seni pertunjukan, dirilis oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf).

Sebenarnya, apa perlunya seni? Kenapa seniman harus terus berkarya di tengan pandemi? Bukankah mereka bisa beralih profesi?

Tidak, kawan.

Seniman dan pekerja seni harus terus bertahan di dunianya. Betul, mereka dapat mengeruk rejeki dan nafkah di bidang selain seni. Harus realistis bahwa tidak semua seniman dapat memenuhi kebutuhan materinya. Terutama yang belum tenar. Namun setidaknya mereka harus terus berkarya. 

Seniman butuh mengaktualisasikan diri, meciptakan karya, mengasah kreativitas. Bagaikan bisul, jika ditahan maka bisa meletus dan itu berbahaya. Maka kreativitas seni tak boleh dipendam. Mesti tetap dituangkan walau di masa pandemi. Justru masa-masa sulit seperti sekarang inilah seringkali melahirkan karya luar biasa.

Selain itu, masyarakat tetap butuh asupan seni. Musik, puisi, esai, pertunjukan teater, film, patung, kesenian tradisional, dan semua karya seni lain. Semua karya seni itu merupakan potret kehidupan yang mampu menjaga kita semua agar tetap waras, instropeksi diri. Karya seni bukan sekadar menghibur, melainkan juga membuat penikmatnya mawas diri.

Apalah artinya hidup tanpa seni?

Sebuah kehidupan yang hampa.

Dan kita bisa mati berdiri apabila hidup tanpa seni di tengah pandemi.

Foto: theguardian.com

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara