Koko Deteksi: Ayo Musisi, Kita Bangkit Bersama

Promotor musik Harry ‘Koko’ Santoso menyebut Indonesia ini memiliki minimal 100 ribu grup band yang tersebar di 34 propinsi, 512 kabupaten setingkat kota, 76 ribu lebih desa dan kelurahan, dimana setiap desa atau kelurahan, minamal memiliki satu sampai lima grup band. Namun akibat pandemi, mereka yang mencari nafkah di industry musik terpaksa menghentikan aktivitasnya.

Lewat diskusi daring dengan tema “Saatnya Bangkit Bersama” yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Komunitas Pewarta Hiburan Indonesia (KOPHI), CEO Deteksi Production ini melihat pandemi membuat industri music tak bergairah. Dia pun mengajak semua elemen untuk bangkit bersama di tengah Covid-19.

“Saya sudah lebih dari 30 tahun hadir dari Sabang sampai Merauke bersama pegiat pertunjukan lainnya mencatat, sedikitnya 10 kegiatan music, minimal setiap hari secara komersial digelar lebih dari 500 kabupaten setingkat kota. Ini sama dengan 10 x 512 kota x 365 hari = lebih dari 1,5 juta kegiatan musik secara komersial setiap tahun,“ kata Koko.

“Ayo bangkit bersama di saat pandemi ini, terlebih Indonesia 75 tahun merdeka. Jadikan semangat bangkit bersama dengan cara saling dukung pemerintah dan musisi se-Indonesia yang saat ini kehilangan pekerjaan, “ tutur dia. 

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah mengembangkan digital, di mana hal itu bisa menyasar pada setiap musisi di berbagai daerah di Tanah Air, termasuk juga dunia internasional. “Digital musik langkah yang tepat untuk musik Indonesia ke depan, tetapi hari ini musisi dari Sabang sampai Merauke butuh dukungan dan saling membantu semua pihak, “ beber dia.

Koko sangat mendukung musisi yang bisa bangit di tengah pandemic. Hal itu pun bisa menjadi contoh musisi lain untuk mengembangkan kreativitas mereka dalam berkarya yang pada akhirnya untuk meningkatkan perekonomian.

“Ada beberapa grup musik yang melakukan konser live streaming selama pandemi. Ini bentuk kreativitas yang harus didukung, tapi masih jauh dari harapan agar musisi kita dapat menghasilkan nilai komersial,” ujarnya.

Sementara, untuk mendukung semua itu, Koko berharap kepada pemerintah untuk bergerak cepat memberikan kemudahan kepada musisi untuk kegiatan musik, tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat. 

“Berikan secara gratis untuk pajak tontonan orang, venue milik Pemda dengan harga khusus, Satgas Covid-19 yang mendampingi konser, ijin keramaian atau konser dan lain-lain, “ jelas Koko.

Dalam diskusi, Candra Darusman selaku Ketua Federasi Serikat Musisi Indonesia (FESMI) menambahkan, di tengah pandemi manusia harus membiasakan diri berdoa agar wabah virus corona segera pergi. “Kita harus membiasakan diri sambil terus berdoa supaya pandemi ini bisa segera berakhir dan bisa nonton konser off air kembali,” ujarnya.

Sementara, di panggung internasional industry music sudah mulai bergeliat di tengah penyebaran virus corona. Selain live streaming, sebagian musisi menggelar konser lewat drive-in. Presiden dan Kepala Eksekutif Live Nation Michael Rapino mengatakan penting bagi pihaknya untuk menggelar drive-in.

“Penting bagi kami untuk terus melakukan konser drive-in, yang akan kami uji dan perkenalkan, yang berhasil kami lakukan, konser yang bisa dlakukan di luar ruangan, bisa di teater, bisa di lantai stadion besar yang memiliki ruang untuk aman dan Kami memiliki semua rencana ini,” bebernya.

Dalam beberapa minggu terakhir, konser drive-in dan jarak sosial telah diadakan di sejumlah negara, seperti Denmark, Swedia dan Jerman.

Sumber: Sindonews.com

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara