Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara virtual. Gelaran itu akan dilangsungkan mulai 12 September 2020 oleh komunitas yang ada di bilangan Pejaten ini.

Musim Seni Salihara diadakan secara live streaming, dengan pembukaan berupa obrolan tentag proses kreatif Melati Suryodarmo. Performance artist asal kota Solo, Jawa Tengah, itu akan berbicara mengenai refleksi pribadi tentang khazanah gerak dan tari Nusantara yang menjadi digital.

Muhammad Khan dan Putri Ayudya akan menampilkan pembacaan sastra karya sastrawan-sastrawan penting Tanah Air yaitu Sapardi Djoko Damono dan Subagio Sastrowardoyo.

Di bidang musik, ada tiga komposer muda dari khazanah musik kontemporer. Di antaranya adalah Gatot Danar Sulistyanto, Gema Swaratyagita dan Nursalim Yadi Anugerah. Dari bidang seni tari, akan tampil tiga koreografer muda yaitu Ayu Permata, Eyi Lesar, dan Riyo Tulus Pernando.

Di bidang teater ada Jim Adhi Limas yang bercerita tentang Rolland Dubillard. Dubillard adalah salah satu penulis Prancis yang banyak bekerja untuk teater dan film Les Diablogue (1975) salah satu karya Dubillard yang hingga kini masih muncul di panggung-panggung teater Prancis.

Semua rentetan acara yang berlangsung hingga 11 Oktober 2020 tersebut diadakan secara virtual. Dan ini memang untuk pertama kalinya Komunitas Salihara melakukan pertunjukan seni secara digital.

“Dalam Musim Seni Salihara, untuk pertama kali kami memproduksi program-program yang hanya tampil sepenuhnya-dan-pertama-kalinya bersifat digital,” jelas keterangan pers yang diliris Komnitas Salihara belum lama ini.

Tertarik dengan ajang virtual ini? Sila segera mendaftar di situs Salihara.

Gelaran seni ini menjadi salah satu bukti bahwa kreativitas seni tak pernah bisa mati, kendati di tengah pandemi.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana