Haruskah Mereka Kembali ke Jalan?

Masih melihat pengamen di jalan-jalan selama pandemi Covid-19 ini? Kalau ya, bisa jadi mereka sebagian dari “alumni” Institut Musik Jalanan (IMJ). Semestinya mereka sudah naik level mengamen di mall, seperti yang sejak lama diperjuangkan Andi Malewa, pendiri IMJ. Apa daya, selama pandemi semua mall memberlakukan PSBB. Tidak ada panggung lagi buat mereka.

“Hancur total, mbak,” ujar Andi saat ditanya bagaimana merosotnya pendapatan para pengamen selama pandemi.

Sempat melakukan terobosan dengan mengamen online, yaitu memanfaatkan fasilitas live streaming. Tapi tak berlanjut. “Equipment (peralatan) kami belum komplit, mbak. Harganya lumayan mahal,” ungkap Andi. Sebelumnya mereka mencoba memakai smartphone ala kadarnya, dan hasilnya kurang optimal untuk audio. Padahal untuk menghadirkan musik yang nyaman, perlu audio berkualitas.

Betul, Juni lalu mereka sempat digandeng Kemenparekraf mengadakan “Ngamen Dari Rumah” dengan tema Ngabuburit di Rumah Aja yang memfasilitasi 200 musisi jalanan terdampak Covid-19 untuk tampil di panggung online. Tapi selanjutnya harus berupaya sendiri untuk bisa tampil di dunia maya. Pastinya butuh fasilitas modal sendiri. Dan itu belum ada.

Kembali ke jalanan tentu bukan kondisi ideal, sebab ancaman Covid-19 selalu mengintai. Pendapatan pun berkurang drastis, sebab makin sedikit orang mau merogoh kocek untuk pengamen jalanan.

Para pengamen ini hanya satu profesi dari sekian banyak pekerja seni yang terdampak pandemi. Orang mungkin enteng saja bilang, “Kan bisa ngamen online.” Ternyata tidak sesederhana itu.

Seniman dan pekerja seni tidak semuanya berbalut kegemerlapan seperti artis-artis di layar kaca. Jangankan untuk tampil menyanyi dengan fasilitas layak di masa pandemi ini untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja begitu sulitnya.

Mereka juga bukan selebgram, Youtuber, vlogger, yang berpenghasilan sekian puluh juta. Sangat jauh dari itu. Jangan bayangkan yang indah-indah terus ketika kita mendengar kata “seniman dan pekerja seni”. Ada banyak yang terpaksa kembali ke jalanan yang liar, sarat kriminal. Menyanyi parau dengan perut keroncongan demi sesuap nasi. Tidak, mereka bukan pengemis.

Inilah nasib para. seniman dan pekerja seni. Di masa normal, menghibur dan dielu-elukan. Di masa pandemi, banyak yang terlupakan. Adakah solidaritas kita untuk mereka? Tidak harus berupa materi. Bisa kerjasama, kolaborasi, atau apapun itu.

Kita masih butuh seni, budaya, kreativitas, sebagai hiburan pelepas penat, atau pengingat bahwa hidup itu indah. Jangan sampai mereka kembali ke jalanan yang rawan virus mematikan itu, kawan.

Mari rangkul mereka.

Foto: Dokumentasi Andi Malewa – IMJ

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara