Musisi Jalanan dan Adaptasi Kenormalan Baru

Pergerakan Institut Musik Jalanan memasuki babak baru dalam menghadapi new normal. Musisi jalanan adalah satu dari sekian banyak profesi yang sangat terdampak oleh pandemi.

3 tahun sudah, IMJ mendapatkan akses mengamen resmi di mall dan ruang publik dari Ditjen Kebudayaan Kemdikbud RI. Sejak pandemi melanda dunia, semua ruang publik tersebut ditutup, dan praktis semua musisi jalanan IMJ kehilangan tempat untuk mencari nafkah. Bagaimana langkah Ditjen Kebudayaan dan IMJ dalam menyiasati keadaan ini?

Ngamen Di Museum

Museum adalah entitas lain yang juga sangat terdampak karena pandemi ini. Hari sabtu tanggal 29 Agustus kemarin, Ditjen Kebudayaan untuk pertama kalinya membuka akses mengamen di Museum sebagai sarana ekspresi bagi musisi-musisi jalanan dari IMJ. Bertempat di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta pusat, IMJ memulai kegiatan ngamen perdananya dengan konsep video tapping yang hasilnya nanti akan kami unggah ke sosial media.

Dalam video tersebut akan tercantum QR Code sebagai media “sawer” non tunai bagi masyarakat yang ingin memberikan apresiasinya kepada para musisi jalanan yang tampil. Kegiatan ini merupakan langkah awal kami untuk membuka akses yang lebih luas lagi.

Tidak sampai disini saja, Ditjen Kebudayaan akan membuka lebih banyak lagi akses bagi kawan-kawan musisi jalanan. Ada ratusan museum dan kawasan cagar budaya di kota-kota lain (yang saat ini juga menjadi area destinasi wisata) yang bisa kita akses sebagai ruang ekspresi dan tentunya legal.

Tentu ini menjadi kabar baik dan harapan baru untuk perjuangan kita semua. Bagaimana cara agar kawan-kawan bisa mengakses ruang-ruang ekspresi baru ini? Simak interview lengkap saya sore nanti di RRI Pro 4 92.8 FM.

Andi Malewa
Institut Musik Jalanan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara