Andi Malewa: “Musisi Kelas Bawah, Mari Bertempur di Medan Laga!”

Angin segar mulai berhembus ke arah musisi jalanan. Setelah berbulan-bulan urung tampil di kafe dan mall akibat pandemi, ada secercah harapan mereka dapat kembali meraup nafkah di sana. Andi Malewa, aktivis sekaligus rektor Institut Musik Jalanan (IMJ), berjuang membela musisi jalanan hingga ke level kementrian.

IMJ bersama KPJ Indonesia telah membuat sebuah protokol turunan resmi yang berdasar pada SKB 2 Menteri, Kemendikbud dan Kemenparekraf, Satgas Covid-19, dan Kemenkes. Isinya sangat lengkap untuk digunakan sebagai panduan aktivitas mengamen New Normal, bahkan bisa digunakan untuk semua musisi kafe, wedding, dan pertunjukan seni di ruang publik.

Kemarin, Andi kedatangan tamu dari TVRI Nasional dan dari kawan-kawan Solidaritas Pekerja Musik Indonesia (SPMI) Pusat, yang menaungi para pekerja musik Kafe dan Hotel se-Indonesia yang juga sangat terdampak karena pandemi ini.

“Pertemuan dengan SPMI hari ini bertujuan untuk melanjutkan pembahasan dan pernyataan dukungan penuh dari SPMI terkait protokol ngamen era New Normal yang sudah di sampaikan secara resmi oleh IMJ dan KPJ Indonesia,” kata ayah dua putri ini.

Protokol yang mereka buat tidak hanya untuk musisi jalanan saja, melainkan juga untuk semua musisi yang beraktifitas di kafe, resto, hotel dan area wisata. “Perjuangan ini telah menemukan titik terang dan kita akan kawal semua prosesnya sampai tahap realisasi, sesuai dengan harapan kita semua,” sambung Andi.

Andi sendiri telah lama melatih musisi tersembut untuk layak tampil di kafe dan mall. Setelah sempat menikmati buah manis tempaannya, mendadak pandemi Covid-19 melanda. Dan mereka pun terpaksa gigit jari, sebab pemberlakukan PSBB, di mana kafe dan mall tutup. Sekalipun buka, tetap tak izinkan ada panggung musik.

“Anak-anak IMJ akhirnya terpaksa kembali ngamen di jalanan. Kembali ngamen di pasar, ngamen di tempat-tempat yang jauh lebih beresiko terpapar COVID. Uang cash yang mereka dapat dari hasil ngamen di jalanan itu langsung masuk kantong, ngga peduli lagi steril atau ngga, yang penting bisa bawa pulang uang. Ada anak tunanetra IMJ yang ngamen di Pasar, lalu ditangkap satgas Covid-19,” ujar Andi di laman Facebook dan Twitter-nya.

Semoga saja dengan protokol kesehatan khusus bagi musisi, maka semua musisi di Indonesia bisa kembali berlaga di pentas yang layak. Dan tak ada lagi yang perlu turun ke jalanan yang hingar bingar, semerawut, tanpa protokol kesehatan. Tak perlu ada lagi musisi jalanan yang berisiko terpapar Covid-19 atau terpaksa menjual alat musiknya agar bisa makan.

Foto: Dokumen Andi Malewa

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara