Yogya Annual Art #5 Tetap Digelar di Tengah Pandemi dengan Menerapkan Protokol Kesehatan

Pandemi COVID-19 memang belum berakhir, but the show must go on! Ya, Yogya Annual Art #5 akhirnya digelar untuk menjadi salah satu ritual ibadah budaya bagi masyarakat Indonesia yang sudah kangen dengan pameran seni.

Mengusung tema “Hibridity”, Yogya Annual Art #5 digelar di Sangkring Art art space yang berlokasi di Ngestiharjo, Bantul, Yogyakarta mulai 3 Agustus hingga 4 November 2020. Selain menampilkan karya pelukis seperti Adi Gunawan, Agus Putu Suyadnya, dan lainnya, pameran seni ini utamanya adalah untuk mengenang foto-foto karya mendiang Djaduk Ferianto yang seharusnya dipamerkan di sebuah ajang festival jazz di Afrika Selatan.

Sayangnya, karena pandemi COVID-19 yang terjadi di hampir semua belahan bumi, karya-karya sang legendaris tersebut tidak jadi diberangkatkan ke Afrika Selatan. Akhirnya, ada inisiatif untuk memamerkan foto-foto tersebut di ajang Yogya Annual Art tahun ini.

Adapun hal tersebut diungkapkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi yang hadir dalam pembukaan Yogya Annual Art #5. Dia bahkan sempat memposting kunjungannya tersebut di akun Twitter-nya.

“Kehormatan untuk dapat meresmikan Pameran Yogyakarta Annual Art #5 da membuka Pamera Foto Alm. Djaduk Ferianto di Yogyakarta (03/08),” demikian kicaunya.

Nah, meskipun digelar di tengah pandemi COVID-19, bukan berarti Yogya Annual Art #5 digelar dengan penuh kenekatan. Justru, pameran ini memberlakukan protokol kesehatan selama pameran berlangsung. Hal inilah yang mendapatkan apresiasi dari Menlu Retno.

“Kebetulan ketika Mas Djaduk meninggal, saya tidak bisa datang melayak karena sedang berada di luar negeri. Sehingga bisa membuka pameran ini yang memajang foto-foto karya Djaduk ini merupakan kesempatan yang istimewa. Semoga pameran ini sukses dan tetap sesuai dengan protokol kesehatan cuci tangan, jaga jarak, dan pakai masker,” pungkasnya.

Jadi, jika Yogya Annual Art #5 saja sudah bisa digelar, kenapa pameran seni lainnya tidak? Tentunya, tetap harus menerapkan protokol kesehatan, karena keselamatan seniman dan pengunjung tetap harus jadi yang utama.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara