Tenang, Protokol Kesehatan Tak Batasi Kebebasan Seniman

Seni tidak dapat dimakan, memang. Tapi dengan seni, hidup jadi lebih indah. Apalah arti hidup tanpa musik, desain yang indah, lukisan cantik, tarian gemulai, dan sejenisnya. Ah, siapa bilang seni tak bisa memberi makan? Ada jutaan manusia menggantungkan hidupnya di dunia seni. Sebagai sang penampil, penulis skenarionya, pemahat karya, penata rias, penata dekor, tata lampu, hingga kru seksi repot yang mendukung tiap detil aktivitas seni.

Koalisi Seni Indonesia merangkum, per 21 April 2020 pukul 16.00, terdapat 234 acara seni yang ditunda  atau dibatalkan akibat pandemi. Sampai hari ini bisa jadi sudah mencapai 1000. Itu baru yang terdata dan masih di lini seni pertunjukan. Bagaimana yang di daerah? Para biduan, pemain organ tunggal, penari kuda lumping, reog, jaipongan, dan banyak lagi? Semua yang biasa tampil di hajat pernikahan, khitanan, selametan, dapat dikatakan puasa total selama pandemi.

Solusinya ada dua:

  • Tampil online.

Kendalanya: dibutuhkan instrumen yang andal agar pertunjukan atau karya tetap bisa dinikmati seoptimal saat tampil langsung.

  • Tampil offline, dengan protokol kesehatan.

Kendalanya: Belum tersosialisasi dengan baik. Adakah jaminan saat di lapangan? Bagaimana menangani kerumunan massa yang spontan? Apakah pentonton bisa tetap disiplin?

Ya, sejak awal Juli 2020 pemerintah menerbitkan SKB Mendikbud dan Menparekraf tentang Panduan Teknis Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif. Isinya panduan teknis protokol kesehatan yang harus dipatuhi oleh penyelenggara kegiatan seni dan ekonomi kreatif ketika menjalani masa normal baru.

Detil sekali, mulai dari yang mendasar seperti cuci tangan, sediaan hand sanitizer, bermasker, jaga jarak. Sampai ke tata letak ruang pertunjukan, makanan yang harus higienis. Bahkan ke detil peralatan rias penampil seperti make up dan rambut palsu. Intinya, semua protokol ini sangat memikirkan cara agar pelaku seni tak tertular Covid-19.

Siapa yang bertanggungjawab terkait itu semua? Penyelenggara.

Semua potokol itu, bagus sekali secara teori. Bagaimana dengan praktiknya? Okelah, panitia, pekerja seni, kru, dan semua penampil, dapat didikte untuk mematuhi aturan. Walau ini pun perlu kerja keras ekstra. Seperti kita tahu, mengajak orang untuk disiplin itu bukan hal mudah.

Lantas bagaimana dengan penontonnya? Juga dibatasi jumlahnya, agar bisa jaga jarak. Wajib bermasker, dicek suhu badan, hand sanitizer. Dan seterusnya. Apakah sepanjang pertunjukan mereka bisa tetap jaga jarak dan mempertahankan masker? Apakah mereka bermasker karena kesadaran pribadi, atau sekadar takut tidak diizinkan nonton?

Bagaimana pula dengan kerumunan di luar gedung pertunjukan, seperti pedagang, massa yang ingin sekadar kumpul-kumpul? Mampukah panitia ikut mengatur mereka? Seberapa banyak jumlah panitia yang dibutuhkan untuk memastikan protokol kesehatan dapat berjalan baik?

Hal-hal seperti itulah yang perlu dipertimbangkan di lapangan.

Saya pun kembali ke pertanyaan yang mengusik selama ini, “Apakah protokol kesehatan menghalangi kebebasan berekspresi seniman?”.

Bisa saja itu terjadi. Seorang penari jadi sulit mengekspresikan perasaannya di wajah, karena memakai masker. Namun bukankah seniman selayaknya mampu mengekspresikan perasaannya ke media apapun? Masker adalah kostum, bagaikan baju atau celana atau topi. Dapat dikreasikan dalam berbagai warna, gambar, bentuk. Justru protokol kesehatan merupakan tantangan kreativitas bagi seniman kita. Itu lebih baik daripada menantang maut kala berhadapan dengan virus, bukan?

Yuk, kita mengasah kreasi.

Sumber foto: Akurat.Co

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara