Kala Dunia Seni hingga Penjual Nasi Hadapi Pandemi

Kesenian Kuda Depok (Foto: Koreng)

Di tengah pandemi yang masih jadi tanda tanya kapan akan berhenti, nyatanya banyak orang saling peduli. Paling tidak, mereka berempati. Inilah yang diperlihatkan oleh banyak warganet, baru-baru ini.

Berawal dari pekan lalu, bersama Kika Syafi’ie, kami atas nama sakseni.id membuat kuis melalui media sosial twitter, @zoelfick. Di sana, warganet pengguna twitter diajak untuk merekam bagaimana situasi pandemi, terutama terkait dunia seni hingga kuliner.

Di luar dugaan, banyak yang berbagi cerita di sana, dan merekam apa saja pemandangan seputar kehidupan sosial di sekeliling mereka.

Organ tunggal kena imbas

Mas Rufi, pemilik akun @Gothed secara khusus bercerita tentang kehidupan pemilik organ tunggal yang cukup punya nama di daerahnya.

Pak Trisno, nama pemilik organ tunggal tersebut, sebelumnya sudah malang melintang di dunia musik keliling tersebut.

“(Pak Trisno) mengisi acara-acara lokal, baik itu resepsi, khitanan, atau acara syukuran sederhana,” cerita Mas Rufi. “Kini? Ya, mereka vakum tak bisa lagi hanya latihan dan latihan saja.”

Tak ketinggalan, Mas Rufi pun memamerkan video saat ia berkesempatan bernyanyi dengan tim organ tunggal milik Pak Trisno tersebut.

Selain itu juga ada cerita dari pemilik akun @ag865ok, tentang kondisi yang tak jauh dari pegiat seni.

Ia mengirimkan foto tentang kuda depok (kuda untuk acara khitanan) dan arak-arakannya. Selain, ia juga menjelaskan bagaimana kesenian tradisional tersebut kini seperti mati layu.

Pedagang pasar malam pun pulang kampung

Pemilik akun @Keyfa_97, misalnya, dia bercerita tentang Pak Novi, tetangganya. Sebelumnya, Pak Novi ini acap berprofesi sebagai penjual pakaian di pasar malam.

Lantaran pandemi, tak ayal pasar malam pun akhirnya dilarang, karena dipastikan akan menciptakan keramaian yang membahayakan.

Alhasil, Pak Novi tersebut beralih profesi lagi menjadi tukang sayur untuk tetap dapat menghidupi keluarganya.

Sayangnya, hanya berselang beberapa minggu ia berdagang sayur, pasar yang menjadi tempatnya berjualan pun ditutup.

Tak putus asa, Pak Novi tersebut pun memutuskan untuk menjajakan sayurnya dengan cara berkeliling komplek. Lagi-lagi langkah ini pun terkendala karena adanya pembatasan akses keluar masuk komplek tersebut. Alhasil, pembeli pun hanya ada sedikit.

Pak Novi sempat berada di titik nadir, hanya dapat mengandalkan bantuan dari pemerintah. Namun, bantuan tersebut pun memang tak mencukupi, lantaran ia harus tetap membayar kontrakan di samping juga berbagai kebutuhan rumah tangga.

Berbagai usaha yang mampu ia lakukan, tak membuahkan hasil. Sementara bantuan pemerintah tak bisa menjawab persoalan. Akhirnya ia terpaksa pulang kampung dan belum kunjung kembali. Bahkan, kontrakan yang sebelumnya ia tempati pun kini sudah terisi oleh orang lain.

Cerita tak kalah menggugah juga disampaikan pemilik akun @chocovaniia yang bersentuhan dengan dunia kuliner.

Ia merekam seorang pedagang cilok yang acap menjajakan dagangannya di lingkungan rumah pemilik akun tersebut. “Aku nggak tau siapa namanya. Tapi, aku selalu memanggil ‘Bah’ atau ‘Abah’, karena beliau sudah sangat renta. Aku taksir usianya di atas 75 tahun. Badannya sudah bungkuk,” katanya.

Menurut pemilik akun @chocovaniiaa, meskipun serenta itu, sosok Abah tersebut tetap terlihat semangat mencari nafkah.

“Jujur, aku setiap beli cilok beliau, bukan karena pengen makan ciloknya, tetapi karena ingin sedikit membantu dengan membeli dagangannya,” katanya lagi.

“Pernah kutanya rumah di mana, ternyata lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki sambil mendorong gerobak,” ia menambahkan. “Apalagi jalanan di rumahku juga banyak tanjakan, nggak kebayang tenaga yang dikeluarkan buat mendorong gerobak, dengan badannya yang sudah membungkuk.”

Pemilik akun @Chocovaniia juga menegaskan bahwa baginya sosok Abah tersebut menjadi guru kehidupan buatnya, karena aku salut dengan semangatnya dalam mencari nafkah.

“Beliau tidak memilih untuk meminta walaupun usianya sudah renta. Beliau pejuang kehidupan sebenarnya. Contoh buatku anak muda yang masih sering malas-malasan. Sesekali aku menangis saat melihat beliau terlihat kelelahan,” ceritanya lagi.

Warganet lainnya, pemilik akun @Deesurya03 berkisah tentang ibunya sendiri, seorang penjual nasi warteg.

“Tiap hari (sang ibu) berangkat jam empat pagi dan pulang ke rumah jam enam sore,” ceritanya.

“Sempat mengeluh pandemi ini pelanggannya banyak berkurang, hampir 60 persen. Tetapi beliau tetap berjualan, melayani, sabar menunggu pelanggan. Bahkan, beliau masih membolehkan ada kasbon,” katanya.

Sementara Nunik sebagai pemilik akun @Nunikvico bercerita tentang Ibu Kunati dengan Dhe Nik, dua kakak beradik yang sama-sama belum menikah, dan memang sudah dikenalnya dari kecil.

“Biasanya sehari-hari jualan nasi bungkus yang dititipkan di warung sekolah dekat rumah,” cerita Nunik. “Ada dua sekolahan, tetapi saat pandemi dan anak-anak belajar online, otomatis tidak bisa bekerja seperti biasa.”

Nunik juga bercerita jika sekarang ini seharhi-hari mereka terpaksa hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah. “Untungnya beliau mendapatkan bantuan untuk bisa memenuhi kebutuhan setiap hari.”

Masih menolong orang lain di saat kesulitan

Pemilik akun @The_Moon99 pun punya cerita tak kalah menyentuh, tentang tetangganya yang masih tetap rajin menolong orang saat dirinya sendiri dalam kesulitan.

Namanya Ibu Kartini penjual nasi uduk, yang tinggal bersebelahan dengan @The_Moon99. Walaupun dampak pandemi membuat pemasukannya berkurang, namun ia nyaris tak mengeluh sama sekali.

Bu Kartini tetap menunjukkan kesabaran dan percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur.

Maka itu, dalam kondisi kesulitan itu pun ia masih sering membantu tetangga sekitarnya dengan memberikan makanan untuk yang membutuhkan.

Tak hanya itu, ia pun sering memberikan utangan untuk para tukang sampah, tim oranye (petugas kebersihan), ojol, hingga ibu rumah tangga.

“Padahal dia sendiri kekurangan, tetapi tetap membantu sebisanya,” kisah Thea melalui akun twitternya.

Optimisme dari Angkot

Di Cipayung, Jakarta Timur, ada sosok Bang Sonang yang diceritakan oleh Tauhid Patria melalui akun @sbongkahberlian.

Kebetulan, kata Tauhid, Bang Sonang ini adalah tetangganya sendiri. Menurutnya, memang sempat ada keluhan dari penarik angkot tersebut atas kondisi pandemi yang belum kunjung berhenti. Tentu saja, keluhannya tak jauh-jauh dari pendapatannya yang jauh berkurang.

“Namun dia tetap narik setiap pagi dengan penuh semangat. Sebab dia yakin semua sudah ada yang ngatur, katanya,” kisah Tauhid.*

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara