Srikandhi Saras Sejati, Penjaga Tradisi Banyumasan

Diberi nama Srikandhi Saras Sejati (SSS), sebab semua anggotanya perempuan. “Sudah seperti saudara, saling nyaman dan senang menjadi pemain kuda kepang,” ungkap Wahyanti, salah satu penari SSS. Diresmikan berdiri pada 2016, SSS sesungguhnya sudah aktif dan giat tampil jauh sebelum itu. Saking lamanya, Yanti sampai lupa.

Kuda kepang alias kuda lumping, di Banyumas populer juga dengan nama ebeg. Walau dibawakan oleh perempuan, ebeg yag ditampilkan SSS tetap bisa gagah, energik, dan lincah. Sebab ebeg Banyumasan memang menggambarkan adegan prajurit perang yang sedang menunggang kuda. Bukan kuda sungguhan, melainkan boneka yang terbuat dari anyaman bambu, kepalanya diberi ijuk sebagai rambut. Konon, kesenian ebeg sudah ada sejak abad ke-9, saat manusia mengenal animisme dan dinamisme. Tak heran jika di beberapa pergelarannya, ebeg diwarnai adegan kesurupan. Masyarakat Banyumas sangat menjaga kelestarian budaya ebeg. Nyaris di setiap hajatan seperti pernikahan, khitanan, selamatan, hingga Satu Suro, mereka menggelar ebeg alias jaran kepang Banyumasan.

Sejak pandemi melanda, otomatis pergelaran pun sepi. Sebab ebeg selalu mengundang kerumuman, yang sangat dihindari sejak pandemi.

“Sejak ada lockdown, ya kami tidak pernah pentas lagi,” ujar Yanti, begitu Wahyanti akrab disapa. “Sebelum pandemi, setiap bulan selalu ada pentas. Pendapatan tak tentu, sebab budget-nya beda-beda,” ungkapnya. Yang jelas, kebutuhan sehari-hari semua personel SSS yang terdiri dari 10 orang ini tecukupi.

Kebahagiannya bukan sekadar di materi, namun juga kepuasan batin. Hobi menari, tampil di depan khalayak, membuat Yanti dan teman-teman senang hati ikut melestarikan budaya daerahnya.

Perempuan berputra dua ini tak pendek akal, untuk menambah pendapatan dia berjualan di pasar. Anggota SSS lain ada juga yang bekerja paruh waktu. Yang jelas tidak berpangku tangan sembari menunggu pandemi berlalu. “Kita ingin pandemu segera selesai, agar kita bisa pentas lagi.  Dalam hati kecil ingin juga ada yang memperhatikan kami sebagai pelaku seni” ujar Yanti yang selalu lincah di setiap penampilannya. Bagaimana kalau ada bantuan dari pemerintah? Jelas perempuan 32 tahun itu sangat berharap dapat terwujud.

Agaknya Yanti dan teman-teman sesama penari ebeg perlu mulai belajar bagaimana bisa tampil sembari menrapkan protokol kesehatan. Pakai masker, cuci tangan, jaga jarak. Penarinya bisa disiplin, namun bagaimana dengan penonton? Kesenian daerah cenderung identik dengan kerumunan spontan. Inilah yang perlu lebih dipikirkan Pemerintah Daerah setempat. Bukan hanya masalah penghasilan senimannya, tapi juga pelestarian budaya daerah yang harus terus digaja.

Ebeg Banyumasan dapat disebut sebagai kesenian tradisional asli Indonesia yang tidak terpengaruh budaya luar. Beda seperti wayang yang terpengaruh India. Ebeg Banyumasan betul-betul menampilkan kisah kesehatian warga Banyumas. Lagu-lagu dalam musik pengiring berisi pantun atau wejangan hidup, atau kisah tentang kesenian ebeg sendiri.  Hampir semua memakai bahasa Jawa Banyumasan atau biasa disebut Ngapak lengkap dengan logat khasnya.

Foto: Dokumentasi Wahyanti & Srikandhi Saras Sejati (SSS).

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara