Nasib Pekerja Seni di Tengah Pandemi, Bagaikan Jeritan yang Tak Terdengar

Pekerja seni memang telanjur dianggap terlalu idealis, tidak pernah muluk-muluk terhadap materi, dan siap hidup menderita. Pandemi COVID-19 tampaknya membalikkan semua anggapan itu.

Bagaimanapun juga pekerja seni adalah manusia, yang memiliki kebutuhan hidup dan keinginan bertahap hidup. Mungkin bagi banyak orang, pekerja seni dianggap terlalu “nyeni” dalam memandang hidup, akhirnya penderitaan yang mereka rasakan dianggap seperti kewajaran dalam berseni menikmati hidup.

Tak heran jika kalangan ini terkesan sepi dari sorotan, tidak seperti (maaf) ojek online yang selalu mendapatkan porsi pemberitaan dan publikasi media sosial yang mengguggah rasa simpati. Bukan bermaksud membandingkan, hal ini terlihat dari sekian ribu pertemanan di media sosial, saya hanya melihat 1-2 postingan yang mengangkat tentang kehidupan para seniman selama pandemi. Itupun, dari senimannya sendiri.

Padahal, sebagai punggawa budaya, pekerja seni juga layak dapat publisitas bukan cuma dari karya tetapi dari dayanya sebagai pekerja di tengah pandemi. Hanya saja, memang harus diakui beberapa teman yang berprofesi sebagai seniman terkesan terlalu malu untuk mengakui kesulitannya.

Bahkan, saya membutuhkan usaha lebih untuk meyakinkan mereka supaya mau menjadi narasumber di media ini yang memang dihadirkan untuk menyuarakan penderitaan para pekerja seni.

“Waduh, jangan deh. Malu gue kalo temen-temen pada tahu soal ini. Gue kan juga nggak pernah posting apa-apa kalo lagi kesusahan,” ujar Anton, penabuh drum di sebuah band kafe.

Anton memang terbilang pintar menyembunyikan kesulitannya. Bahkan, menjual peralatan musik yang dimilikinya tidak pernah diposting di media sosial, melainkan via japri ke teman-teman terdekat.

“Gue biasanya ngejual ke yang kenal aja. Yang setahu gue demen musik. Jadi gue ngejualnya juga enak, seenggaknya barang-barang gue berada di tangan yang tepat,” ungkapnya.

Lain lagi dengan Rina, vokalis band spesialis Top 40 ini terpaksa nganggur 4 bulan lebih lamanya karena kafe tempat dia biasa ditanggap harus tutup. Meskipun begitu, dia kurang etis jika menyampaikan kesulitannya di media sosial.

“Abis gimana ya? Orang kan taunya gue fun-fun aja. Begitu misalnya tiba-tiba gue posting lagi susah, kesannya gimana gitu. Kayak bukan gue banget,” ujarnya.

Rina mengaku sempat gantian jaga shift bersama suaminya yang kebetulan berprofesi sebagai driver ojek online. Tapi ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

“Peraturannya juga ribet sih ya selama pandemi. Jadi dapat Rp 40 ribu sehari aja udah beruntung banget. Sepi penumpang, mungkin pada takut ketularan COVID,” ungkap perempuan berambut pendek ini.

Butuh Wadah Agar Berani Bersuara

Sebenarnya, bukan karena gengsi atau enggan, baik Anton maupun Rina sebenarnya sangat ingin menyuarakan kesulitannya. Namun, disayangkan dia tidak tahu harus menyalurkannya ke mana dan ke siapa, sementara media sosial dianggap bukan tempat yang tepat untuk berkeluh kesah.

“Gue bukan ibu-ibu jenis itu sih yang urusan rumah tangga atau dapur aja diumbar ke Facebook. Ya, gue paling cerita ke temen deket aja. Syukur-syukur kalo masih ada yang mau bantu apa gitu,” pungkasnya.

Di luar sana tampaknya masih banyak Anton dan Rina lainnya yang punya penderitaan serupa tapi tidak tahu harus berbuat apa. Bagi seniman yang terbiasa soliter, tidak tergabung dalam komunitas atau kelompok tertentu, mereka cenderung menyimpan penderitaanya untuk diri sendiri. Tak heran jeritan mereka bagaikan tak terdengar.

Berbeda jika seniman sudah tergabung dengan komunitas tertentu, sebut sama Komunitas Insan Musik se-Pantai Barat Aceh yang menaungi pekerja seni di daerah setempat. Melalui ketuanya yang bernama T Nasrudin, komunitas ini tidak sungkan mengetuk pintu redaksi media untuk menceritakan kesulitan yang dihadapi para pekerja seni di komunitasnya selama pandemi.

“Tidak boleh ada keramaian, tidak boleh ada pesta, sementara job kami hanya dari kegiatan seperti itu. Sudah lebih 30 tahun bergerak di bidang seni, baru kali ini merasakan dampak yang sangat sulit secara ekonomi,” ujar pria berusia 51 tahun ini, seperti dikutip dari Aceh Journal National Network.

Seperti nasib yang dialami Anton, demi menyambung hidup dia harus merelakan alat musik miliknya berpindah tangan alias dijual. Selama ini pementasan atau hajatan orang merupakan mata pencaharian utama dia dan istrinya yang seorang penyanyi.

“Demi bertahan hidup, kami dan keluarga, cuma itu yang bisa dilakukan. Alat musik yang ada kami jual,” pungkasnya.

Dia mengaku, sebenarnya telah menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) senilai Rp250 ribu dari Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, tapi jumlah ini hanya didapatkan sebelum Lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah.

“Mana mungkin dengan uang segitu bisa menghidupi lima orang anak di rumah. Kami para pekerja seni berharap pemerintah memberikan jalan untuk kami memberikan pekerjaan untuk bertahan hidup di tengah pandemi. Kami berharap larangan kegiatan mengumpulkan orang banyak dipertimbangan lagi. Semua kegiatan keramaian di mal, pasar, pantai di Aceh sudah boleh, tapi tidak untuk kegiatan pertunjukan,” keluhnya.

T Nasrudin ketika mengungkapkan kesusahannya selama pandemi kepada media (foto: AJJN.net)

Tidak jauh berbeda dengan Komunitas Insan Musik se-Pantai Barat Aceh, puluhan orang dari musisi organ tunggal dan jasa sewa panggung hiburan yang tergabung dalam Komunitas Musisi Organ Tunggal juga berani menyuarakan penderitannya. Namun, mereka menyuarakannya lewat unjuk rasa di kantor Balai Kota Pemprov DKI Jakarta, Senin (13/7/2020) silam.

Di unjuk rasa tersebut, mereka meminta agar Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, untuk kembali mengizinkan hiburan orang tunggal beroperasi kembali di Ibu Kota. Pasalnya, banyak dari pekerja seni, para tukang sewa tenda, panggung hiburan, sewa sound system, dan katering makanan tidak dapat beroperasi sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta.

“Kami minta petunjuknya apa, solusi ke depannya seperti apa. Anak-anak kita sudah sekolah walaupun tidak berangkat tapi biaya pulsa tinggi. Kami butuh solusi, bukan hanya dikirimi beras,” ujar Bambang, ketua komunitas tersebut.

Masrori, yang ikut aksi unjuk rasa tersebut, juga mengungkapkan kesedihannya. Dia meminta agar hiburan organ tunggal bisa diperbolehkan lagi di Jakarta setidaknya bulan Agustus.

“Tolong dibuka kembali pada Agustus, anak istri kita butuh makan. Sudah 4 bulan saya nggak kerja, untung saya enggak jual istri,” pungkasnya seperti dikutip dari WartaEkonomi.

Jadi, bagi para pekerja seni, jangan ragu untuk membangun dan bergabung dengan komunitas, agar lebih mudah menyuarakan pendapat, terutama di tengah pandemi seperti sekarang. Menyimpan penderitaan sendirian justru akan menambah bobot penderitaan tersebut.

Satu lagi, jangan ragu menghubungi kami. Karena media ini dihadirkan untuk menyuarakan segala kesulitan yang dialami selama pandemi. Menjeritlah lewat media ini, agar suaramu makin lantang terdengar.

Selamat berjuang, semoga bisa terus berkarya!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara