Kita Tidak Sebebal Itu, Bukan?

“Maaf, karena percetakan kami masih terkena PSBB, maka buku Anda belum bisa dicetak hingga waktu yang tidak ditentukan.” Begitu kira-kira pemberitahuan via email dari penerbit. Duh, rasanya seperti teriris sembilu. Mayoritas penulis buku pasti akan merasakan hal serupa. Betul, sudah ada buku versi digital alias ebook. Nyaris semua penerbit buku menyediakan versi ini. Dengan harapan dapat tetap berjualan tanpa harus mencetak. Fakta berkata lain. Peminat ebook di Indonesia masih lah sedikit.

Setiap kali saya tawarkan versi digital buku yang tersedia online di Gramedia Digital, selalu saja calon pembeli menampik. “Saya lebih suka buku cetaknya, lebih enak dibaca.”

Peminat yang sudah melakukan pre order buku saya cukup banyak. Memang penjualan buku versi cetak ini lebih menguntungkan penulis apabila penulis menjual langsung ke pembeli. Sebab mendapat margin lumayan, di luar royalti yang hanya 10 persen saja. Tapi dengan adanya pandemi, di mana percetakan besar milik penerbit tidak bisa beroperasi, otomatis pendapatan ini stop sama sekali. Andalannya hanya ebook, di mana penulis mendapatkan margin lebih kecil. Ditambah lagi peminat ebook kecil sekali.

Lumat sudah impian untuk menambah penghasilan dari penulisan buku kali ini. Siapa nyana buku yang saya tulis dengan gegap gempita, semangat, ternyata tak dapat dicetak karena pandemi. Bukan sekadar masalah hilangnya pendapatan. Melainkan juga jadi surutnya semangat berbagi, berkarya. Iya, saya tidak gaptek, saya pun setuju dengan adanya ebook. Apa daya pembacanya sedikit. Tidak bisa makan dari ebook. Kita masih di negara ber-flower, di mana penyuka ebook masih minim.

Yakin, pasti banyak penulis buku lain yang tak kalah pusing dengan masalah serupa. Lebih yakin lagi, bukan saja penulis buku, melainkah pekerja seni dan kreatif lain yang pendapatannya menyusut di masa pandemi Covid-19. Betul, ada dunia maya, di mana kami masih dapat berkarya dan menampilkan karya. Penulis dapat terus menulis di media online, media sosial, blog, ebook, dan sejenisnya. Begitu pula dengan desainer grafis, kartunis, ilustrator, fotografer. Namun rasanya tetap gregetnya kurang. Seperti saya tulis tadi, peminat ebook masih minim di Indonesia.

Apalagi seniman pertunjukan, yang semestinya dapat tampil langsung. Kini mau tak mau harus serba online. Padahal untuk bisa tampil online, diperlukan instrumen pendukung yang harganya tidak murah. Atau kalau mau, bisa tetap menjalankan protokol kesehatan. Ini pun tak semudah membalik telapak tangan. Seperti kita tahu, protokol kesehatan sudah disosialisasikan sejak pandemi bemula. Cuci tangan, pakai masker, jaga jarak. Sayangnya, kelamaan protokol ini semakin tidak diindahkan masyarakat.

Ya, sewaktu korban positif Covid-19 di Indonesia masih di angka ratusan, publik kita begitu taat peraturan. Kini begitu korban melampaui 100.000, justru kian banyak yang abai. Barangkali semua sudah lelah, jenuh, atau termakan hoaks bahwa Covid-19 itu tidak ada? Tidak sebahaya seperti yang diberitakan media?

Ayolah, kita tidak sebebal itu, kan?

Apapun alasannya, semestinya roda ekonomi dapat dijalankan secara hati-hati. Termasuk dunia seni dan kreatif. Betul, bukan hanya bidang ini saja yang terdampak. Pekerja informal, UMKM, semua industri, ikut mengalami krisis ekonomi. Andai saja kita semua dapat disiplin, selalu waspada, saling menjaga kesehatan satu sama lain, maka kita bisa tetap berkarya dan berpenghasilan tanpa ragu. Intinya ada pada disiplin.

Apa betul seniman, pekerja seni dan kreatif susah untuk disiplin? Susah untuk mematuhi protokol kesehatan? Ingin tetap bebas merdeka tanpa aturan memakai masker seperti yang dikampanyekan Jerinx Superman is Dead (SID)?

Ayolah, kita tidak sebebal itu, bukan?

Ilustrasi: Seniman jalanan Swiss, David Perez, mengabadikan para pekerja yang dianggap sebagai pahlawan di masa pandemi. Mereka tetap melayani walau sebagian besar warga melakukan WFH.

Sumber foto: trtworld.com

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara