Ayo Dayat, Berkarya Seni Rajah Lagi dengan APD!

Tato, untuk membuatnya dibutuhkan keahlian menggambar. Bahkan juga melukis. Seni merajah tubuh dengan tinta ini tidak bisa dibuat asal-asalan. Sebab merupakan bagian dari budaya manusia sejak 3000 tahun Sebelum Masehi. Di Indonesia, tato dikenal sejumlah suku seperti Mentawai dan Dayak.

Maka itu Dayat meyakini bahwa tato itu seni. Dan dia beri nama bisnisnya sebagai Day Art, yang juga menjadi nama akun Instagram dan Facebook-nya. Di mana lelaki asal Ambarawa, Jawa Tengah, ini mendokumentasikan sejumlah karya rajahnya.

“Bahagia kalau bisa menghasilkan karya yang bagus, pelanggan puas. Sedih kalau hasil tato kurang maksimal,” ungkap Dayat saat ditanya suka duka seniman tato. Tentu sedih, sebab tato tak bisa diedit, bukan begitu?

Namun Dayat merasa hidup sesuai panggilan jiwa. Dari membuka usaha tato, dia mampu menghidupi istri dan 3 anaknya. Itu sebelum pandemi melanda. Sejak pandemi Covid-19, semua aktivitas bersua peminat tato harus terhenti. Sesuai dengan protokol jaga jarak. Studio tatonya terpaksa tutup. Penghasilan langsung mendekati nol. Sesekali masih berani melayani permintaan mentato orang-orang terdekat yang sungguhan dapat dipercaya. Dalam artian, terbukti negatif Covid-19, dan menjalani protokol kesehatan.

“Mengerjakan apa saja yang menghasilkan uang,” ujarnya menjawab pertanyaan bagaimana ia b isa mencukupi kebutuhan keluarga. Ya, alias kerja serabutan, selama tidak melakukan tindak kriminal. Akibat dari pandemi? “Angsuran bank menunggak,” lanjut Dayat. Ini nyaris sesuai dengan slogan di studio tato miliknya, “100% sakit”.

Bisa Pakai APD

Dayat hanya satu dari sekian banyak seniman tato yang terpaksa tutup studio. Beberapa seniman tato mengakali pandemi ini dengan memakai Alat Pelindung Diri (APD). Seperti yang dilakukan seorang pentato di Niceart Tatto Studio, Kebon Nanas, Tangerang. Indra, pemiliknya, menjalankan protokol kesehatan cukup lengkap. Mulai dari masker, face shield, sarung tangan, hingga tempat tidur yang dilapisi plastik dan diganti setiap ada pelanggan baru. Pastinya ini memerlukan modal tidak sedikit.

Atau bisa juga alih profesi menjadi pelukis kanvas selayaknya Gusti Made Mahardika alias Bob Tato. Pria asal Gianyar, Bali, ini ternyata memang sudah sering menerima job lukis wajah, di sela kesibukannya sebagai seniman tato.

Lalu, apakah Dayat juga mau beralih profesi? Sejauh ini belum. Dia masih setia menjadi seniman tato. Semoga Dayat bisa menyisihkan sebagian pendapatannya yang sudah menyusut untuk membeli APD, agar bisa tetap bisa menerima pelanggan.

Semangat, Dayat!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara