Menghidupkan Harapan Pekerja Seni dengan Teknologi Virtual

Pertunjukan seni secara virtual belakang ini marak sebagai alternatif bagi para seniman untuk tetap berkarya. Sayangnya, tidak semua seniman bisa memanfaatkan teknologi ini.

Paguyuban Seniman Wayang Orang Bharata tentunya bisa berbangga hati, pasalnya mereka merupakan komunitas seniman yang menghadirkan pertunjukan wayang orang pertama secara online di Indonesia. Dengan lakon bertajuk Sirnaning Pagebluk, pertunjukan mereka disajikan di platform Zoom, Sabtu (27/6/2020) silam.

Komunitas seniman ini tidak sendirian, karena ada beberapa nama besar di belakang yang memungkinkan pertunjukan tersebut bisa terwujud secara virtual. Ya, bisa dibilang ini merupakan inisiasi Pertamina bareng Grid Network dan National Geographic Indonesia sebagai upaya membantu para seniman wayang orang untuk bisa tetap berkarya sekaligus mendapatkan pemasukan.

Pasalnya, pertunjukan yang sempat diramaikan dengan hashtag #BerbagiCerita di media sosial ini membuka donasi yang akan diberikan kepada para seniman yang terlibat. Hal ini dikarenakan, sejak pandemi COVID-19, Gedung Wayang Orang Bharata harus ditutup sehingga para seniman tidak dapat melakukan pertunjukan.

Apakah pertunjukan virtual ini berhasil? Bisa dibilang iya. Pasalnya, Pertamina selaku inisiator berhasil meraih rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai penyelenggara pertunjukan wayang orang secara online di Indonesia.

Diklaim, pertunjukan tersebut berhasil ditonton lebih dari 1.000 orang baik di dalam maupun luar negeri, seperti Singapura, Dubai, dan Amerika Serikat. Meskipun begitu, tidak diketahui berapa donasi yang masuk dan diberikan untuk para seniman yang terlibat.

Kesuksesan itu seperti membuat Pertamina ketagihan untuk melakukan aksi serupa dengan menggandeng komunitas seniman yang berbeda dengan tajuk Sayangi Ibu Bumi. Pertunjukan wayang orang online ini digelar Sabtu (4/7/2020) dengan menampilkan pendongeng keliling Samsudin dan Nayaga Cilik yang merupakan mitra binaan anak perusahaan BUMN tersebut, Pertamina EP Jatibarang Field.

Sebenarnya, pemerintah sendiri melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga telah menghadirkan platform streaming tersendiri yang menjadi ruang para kerja seni dan budaya untuk tampil secara live maupun rekaman.

Lewat YouTube Channel budayasaya yang dirilis sejak akhir Maret lalu, kita bisa menonton berbagai pertunjukan seni seperti wayang orang Kethek Ogleng Wonogiri, wayang golek, hingga pembacaan puisi. Selain menonton pertunjukan seni, di sini juga para pekerja seni diberikan ruang untuk menggelar tutorial online. Hingga saat ini, YouTube Channel ini berhasil mendapatkan 40 ribuan subscriber dan 5 jutaan view.

Apakah pertunjukan seni secara online menjadi sesuatu yang baru? Di luar perfilman dan musik, ternyata bagi YouTube Channel Andhika Multimedia hal ini bukan sesuatu yang baru. Ya, YouTube Channel ini sejak 21 Desember 2016 konsisten menyajikan konten-konten pertunjukan seni seperti wayang.

Ketika memasuki pandemi COVID-19, YouTube Channel ini makin intensif menyajikan pertunjukan wayang kulit secara live dari berbagai dalang, seperti Ki Sri Kuncoro hingga Ki Gondo Suharno. Di setiap live streaming-nya, akun yang telah mengumpulkan lebih dari 22 juta view ini membuka donasi yang akan disalurkan kepada para penampil.

Sebenarnya, memang tidak bisa dipungkiri jika teknologi bisa menjadi solusi bagi para pekerja seni untuk bisa tampil secara virtual. Hanya saja, penyelenggaraannya membutuhkan perangkat dan infrastuktur yang mungkin tidak bisa dijangkau semua pelaku seni karena memang tidak bisa sesederhana seperti membuat membuat IG story atau video TikTok.

“Saya nggak ngerti gitu-gituan. Mau nggak mau terpaksa banting setir bantu istri jualan. Pernah ada teman yang bilang bakalan mau bikin projek online-online, tapi dia malah pulang kampung sampai sekarang nggak kejadian,” ujar Arnash, penari yang mengaku sejak 4 bulan terakhir ini berhenti total.

Selama ini, pria berkepala plontos ini mengaku menari untuk pertunjukan musik. Dengan kosongnya konser maupun pertunjukan musik selama pandemi, dia akhirnya terkena imbasnya.

“Kemarin-kemarin memang ada konser, tapi kan semuanya online. Di TV juga persaingan ketat, biasanya yang dipakai ya penari yang sudah jadi langganan stasiun TV-nya. Sedih juga sih kalo lihat penyanyi saya konser online, tapi saya cuma bisa nonton karena memang tidak ada stage,” ungkapnya.

Di luar sana, tentu masih banyak Arnash-Arnash lainnya yang mengharapkan dirangkul berbagai pihak untuk tetap berkarya entah itu secara virtual maupun di pertunjukan konvensional. Ketika sebuah pertunjukan seni dianggap masih sesuatu yang berbahaya untuk didatangi, tentu teknologi adalah sebuah solusi yang bisa menjembatani masyarakat dengan pekerja seni.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara