Wino: “Selain Penghasilan, Kebebasan Seniman Ikut Terampas Pandemi”

Bisa menikmati kebebasan untuk menjadi diri sendiri, itu alasan Aswino Vitus Sumopawiro menjadi fotografer. “Kebebasan berekspresi, bervariasi pengalaman, berkenalan dengan berbagai macam orang,” ujar lelaki 38 tahun ini.

Sesekali, dia juga bergabung dalam tim Event Organizer (EO), broadcasting, dan segala hal pekerjaan terkait dunia seni. Mulai dari memotret, mengedit video, edit foto, pengambilan gambar, serta semua yang berhubungan dengan broadcasting. 

Wino, demikian ia akrab disapa, adalah pekerja seni. Satu dari ribuan pekerja seni dan seniman yang selama pandemi harus gigit jari. Sebelum pandemi menerjang, penghasilan Wino bisa mencapai Rp5 juta berbulan. Dari dunia fotografi dia senang memotret model, acara kebudayaan, kadang juga obyek kuliner. Dunia seni kreatif bagi Wino memang tak selalu gemerlap. 

Selain ada sukanya, tentu ada duka. “Sering dapat project bagus, tapi harga yang diminta terlalu murah. Kurang dihargai. Masyarakat kebanyakan ngga mengerti seni. Tapi kadang capeknya sesuai dengan hasilnya,” ungkap pria lajang ini. Namun itu masih jauh lebih baik. Setidaknya dia masih bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dibanding di masa pandemi Covid-19 ini, dia hanya dapat meraup Rp1,5 juta saja per bulan.

Betul, kini Wino masih dapat bekerja sesekali, terutama edit foto, dan video. Kadang juga shooting. Namun tak seramai dulu, sebab semua bidang bisnis tersendat akibat pandemi. Apa yang Wino lakukan untuk menafkahi dirinya? “Berhemat sebisa mungkin. Kadang mengajak teman untuk berkolaborasi bikin project. Bantu-bantu klien buka usaha sampingan,” Kata Wino. 

Selain pendapatan menurun drastis, Wino merasakan kehilangan kebebasan untuk hunting foto. Jiwanya sebagai seniman kreatif seolah terkungkung akibat pandemi. Harapannya tak muluk-muluk, pandemi segera berakhir. Jika ada bantuan dari pemerintah, apa yang diinginkan? “Uang dan project,” jawabnya lugas.

Semangat, Wino. Kini pemerintah sudah menetapkan panduan teknis protokol kesehatan bagi pekerja seni. Kita tunggu sosialisasinya, sehingga semua pekerja seni dan seniman bisa tetap berkarya dan mencari nafkah.

Foto: Dokumentasi Wino

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara