Aquino Hayunta: “Seniman Harus Mengarsipkan Karyanya”

Pegiat seni, itu mungkin julukan yang pas buat Aquino Hayunta. Setelah malang melintang di sejumlah komunitas bidang demokrasi, gender, dan seni, ia cukup lama bergabung di Koalisi Seni Indonesia (KSI). Tahun ini Quino, demikian sapaannya, mendirikan Sahabat Seni Nusantara. “Itu nama yang dipilih secara spontan ketika beberapa orang peminat isu seni ingin menyelenggarakan sebuah diskusi di awal tahun 2020. Waktu itu ada kebutuhan mencantumkan nama penyelenggara acara, maka ketemulah nama tersebut. Karena terbentuk secara pragmatis, sebetulnya Sahabat Seni  belum memiliki program yang terstruktur, dan mengadakan sejumlah kegiatan karena dilandasi keinginan untuk berdialog dengan sesama pegiat seni,” ungkap alumni Unika Atma Jaya, Jakarta ini.

Salah satu acara yang digagas Sahabat Seni di tengah pandemi dilakukan secara online. “Apa Kabar Arsip Seni?, begitu tajuknya, dilakukan di Zoom dan YouTube. Bicara soal pandemi Covid-19, Quino mengamini bahwa pekerja seni terkena dampak hebat di sisi ekonomi. Menurutnya, itu akibat banyaknya acara dan kegiatan kesenian yang terpaksa ditunda atau dibatalkan karena pandemi. Bahkan Jakarta Biennale saja yang mestinya diadakan di akhir tahun ini mesti diundur ke tahun 2021.

“Yang terkena dampak terutama pekerja seni dari bidang film dan seni pertunjukkan, intinya mereka yang perlu berinteraksi langsung dengan banyak orang ketika menghasilkan karya mereka dan mempertunjukkan karya mereka,” kata Quino.

Jelas, dampaknya mereka kehilangan penghasilan, baik yang rutin maupun yang berasal dari proyek seni. Quino juga menyoroti, dampaknya terhadap organisasi seni adalah mengalami ketidakpastian, problem mensiasati agar organisasi tetap hidup dan para pekerjanya juga tetap bertahan. Umumnya ada persoalan untuk menutupi biaya over head seperti sewa tempat, listrik dan gaji karyawan.

“Dampak ke sektor seni itu sendiri atau sub-sektornya. Misalnya target penonton tahunan menurun padahal di tahun-tahun sebelumnya sedang berkembang dengan baik (terutama di sub-sektor film), pertumbuhan secara umum menurun,” imbuhnya.

Perlunya Program Pendukung

Solusinya? Jika sektor seperti UMKM dan pekerja informal adalah pemberian Bansos dari pemerintah. Bagaimana dengan pekerja seni? Ya, Bansos masih dibutuhkan. Tapi lebih dari itu mereka perlu program pendukung. Sahabat Seni pernah menyampaikan rekomendasi ke Kemendikbud untuk memberi bantuan program. Ini merupakan bantuan finansial untuk pegiat dan organisasi seni agar program mereka tetap berjalan dengan cara online.

Dukungan finansial ini dilakukan secara kuratif maupun dengan open call. Produksi-produksi yang dilakukan harus cermat dalam berbiaya, sehingga dana yang terbatas bisa didistribusikan ke makin banyak pihak.

Kemendikbud bisa juga memberi dukungan seperti pembentukan platform online agar pegiat seni tetap bisa mencari penghasilan. Sebut saja, daftar pekerja freelance dan portofolionya yang bisa diakses publik pasar. Atau toko online tempat pegiat seni bisa menjual hasil karyanya. Atau juga kelas seni dan kursus online, sehingga seniman bisa mendapat dana dari menjadi tutor.

Lebih jauh, Quino menyebut perlunya dukungan untuk organisasi seni agar mengubah kegiatan menjadi mengembangkan pengarsipan, database dan penelitian. Tidak lupa pula bantuan finansial untuk organisasi seni yang perlu membayar staf mereka, keringanan tagihan listrik, PBB atau dukungan gaji untuk karyawan level bawah.

Dokumentasi Online

Sejak pandemi, banyak event seni yang beralih ke online. Namun itu tak semudah membalik telapak tangan. “Tetap membutuhkan biaya produksi untuk menghasilkan pertunjukkan yang pantas. Belum ketemu bagaimana monetasi dari pertunjukkan online macam itu, apakah penonton dimintai donasi, bayar tiket virtual atau seperti apa skemanya? Lagipula produksi tetap harus dilakukan melalui pertemuan dengan banyak orang, kecuali jika pertunjukkan tunggal seperti baca puisi atau tarian perseorangan,” Quino menuturkan.

Namun go online sejauh ini masih menjadi media promosi yang bagus bagi pekerja seni. Quino ingin mereka mulai mengalihkan kegiatan sementara ke pengarsipan kegiatan masing-masing. “Sehingga ketika orang butuh cari informasi soal sang seniman atau karyanya, maka informasi tersebut sudah bisa tersedia secara online,” pesan Quino.

Betul juga, di masa pandemi atau tidak, orang selalu mencari informasi dan data secara online. Inilah perlunya dokumentasi seni dan pekerja seni, agar mereka mudah dikenal. Dan jika dikenal, maka orang pun mudah menghubungi mereka untuk membeli atau menikmati karyanya.

Foto: Dokumentasi Aquino Hayunta

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara