Duka Pekerja Film: Tabungan Habis hingga Rumah Tangga Berantakan

Pandemi COVID-19 membuat hingar-bingar dunia hiburan seperti industri perfilman meredup. Begitupun dengan kehidupan para pekerja film, bisa dibilang telah memasuki babak gelap kehidupan.

Hal ini dirasakan betul Wayan Sonatha, pria yang lebih dari satu dekade bekerja sebagai kru alias pekerja film. Kepada Sakseni, dia mengaku industri yang menjadi tempatnya mencari nafkah telah collaps sejak 3 bulan yang lalu.

“Sekarang sebenarnya sudah menggeliat lagi, tapi belum full. Baru sekitar 30-40% ada aktivita syuting,” ujarnya.

Kondisi sekarang diakuinya memang menjanjikan harapan, sayangnya karena diperpanjangnya masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, bioskop yang tadinya dijanjikan akan buka pada 29 Juli 2020 ternyata harus ditunda hingga masa yang belum ditentukan.

“Ketika ada rencana bioskop bakal dibuka lagi, kita harapan untuk syuting dan sudah mengurus perizinan untuk bulan Agustus karena diperkirakan sudah melandai (kasus COVID-19). Begitu di-pending karena kasus yang makin meningkat, mau tidak mau izin itu terpaksa mengalami penangguhan. Bahkan bulan Maret ada syuting yang baru berjalan 4 hari harus dihentikan sampai sekarang belum dilanjutkan,” ungkapnya.

Sebagai pekerja film yang tergabung dalam Asosiasi Casting Indonesia (ACI), Wayan mengaku sebanyak 30 anggota dari organisasi ini sempat dapat bantuan dari GoPlay (platform streaming besutan Gojek) sebesar Rp 300 ribu per kepala. Hal ini dikarenakan asosiasi tersebut masuk sebagai bagian dari Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang menaungi lebih dari 50 organisasi pekerja film yang bekerja sama dengan Gojek untuk memutarkan film Indonesia di platform streaming tersebut sebagai upaya membantu para pekerja film yang terdampak pandemi COVID-19.

“Tapi saya nggak tahu, ini dapatnya sekali ini saja atau gimana. Yang namanya dapat bantuan sih, pasti diambil-ambil saja,” akunya.

Harus Pintar Atur Keuangan

Sekedar membuka dapur kehidupan pekerja film, menurut Wayan, sebelum ada pandemi COVID-19 di Indonesia, nasib pekerja film terbilang tidak jelas. Hal ini dikarenakan perfilman Indonesia belum menjadi industri, masih bersifat komunitas sehingga pekerjanya bukan pegawai tetap.

“Jadi, kalau sidah menjadi industri seperti di Hollywood, pekerjanya nggak mungkin luntang-lantung nggak jelas ketika tidak ada syuting. Kalau pekerja film di sini umumnya pekerja kontrak, tidak ada syuting berarti tidak makan,” pungkasnya.

Itulah sebabnya, begitu pandemi COVID-19 menerjang negeri ini, rekan-rekannya sesama anggota ACI banyak yang memilih untuk pulang kampung karena tidak adanya job. Dia sendiri menyadari bahwa profesi ini sangat berisiko.

“Pekerja film harus pintar-pintar atur keuangan, ini risikonya. Saya sendiri sudah menghabiskan tabungan untuk biaya hidup sehari-hari selama pandemi,” ujar pria yang pernah terlibat di produksi Jomblo The Movie yang disutradarai Hanung Bramantyo ini.

Wayan ketika dapat peran kecil di sebuah serial drama yang diputar di salah satu platform streaming (foto: dokumen pribadi).

Bukan cuma itu saja, demi tetap menjaga dapurnya tetap ngebul, dia kadang nyambi untuk ngojek online. Dia bahkan juga mencoba membuka usaha makanan. Semua dilakukan agar perekomian keluarganya tetap stabil.

“Saya tidak ingin pandemi berdampak besar bagi rumah tangga, karena saya dapat kabar salah satu teman harus bercerai karena persoalan ini. Maklum, namanya faktor ekonomi sangat rentan,” pungkasnya.

Jadi Buronan Ibu Kos

Seolah menjadi pelengkap duka pekerja film, Ayu (bukan nama sebenarnya-Red), seorang pencatat adegan mengaku sudah dua bulan belakangan ini hidupnya luntang-lantung. Bahkan, untuk sekedar pulang ke kosannya saja dia segan karena takut ditagih ibu kos.

“Bisa dibilang saya buronan ibu kos. Dia nelpon saya nggak angkat. Dia WhatsApp saya nggak bales. Saya dianggap ngilang aja gitu,” ujarnya.

Sebelum pandemi, Ayu merasa hidupnya biasa-biasa saja, tidak ada persoalan ekonomi. Dia menganggap penghasilannya sebagai pekerja film yang pemasukannya tidak jelas dianggap sesuatu yang biasa.

“Dibilang susah sih sebenarnya sudah lama susah, tapi karena saya dulu bersyukur bisa tetap kerja jadinya dinikmati saja. Sekarang paling parah sih, benar-benar nggak ada duit sama sekali. Makan cuma mengandalkan teman, kebetulan saya numpang hampir dua mingguan ini di tempat dia,” paparnya.

Di tengah kesusahannya ini, dia berharap pemerintah untuk segera memberikan kelonggaran agar syuting bisa berjalan. Dia yakin rumah produksi akan menetapkan protokol kesehatan yang ketat demi melindungi pekerja dan lingkungan sekitarnya.

“Nggak usah bicara soal bantuan fresh money, kita sih pengennya ada syuting aja. Dimudahkan, karena tempat saya kerja belum bisa mulai syuting karena memang belum ada izin,” harapnya.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara