Pekerja Seni Butuh Jaring Pengaman, Bukan Sekadar Bansos

Setidaknya ada 234 acara seni dibatalkan atau ditunda akibat pandemi Covid-19. Hingga 21 April 2020, Koalisi Seni Indonesia (KSI) mencatat 30 proses produksi, rilis, dan festival fil, 113 konser tur dan festival musik, 2 acara sastra, 33 pameran dan museum seni rupa, 10 pertunjukan tari, serta 46 pentas teater, pantomim, wayang, boneka, dan dongeng batal atau tertunda. Berarti, perputaran uang di bidang seni terhenti sama sekali. Tentu jumlahnya kini sudah jauh lebih banyak dari itu. KSI melakukan pendataan pada pekerja seni yang jadi korban pandemi ini. Tujuannya, agar mereka menangkap potret keseluruhan, sehingga bisa didapat solusi yang tepat.

Seperti apakah bantuan yang diharap oleh pekerja seni? Hafez GumayKoordinator Advokasi Kebijakan Koalisi Seni, berbagi pencerahan dengan Sakseni.“Idealnya, pemerintah dan swasta memberikan bantuan dana pengganti pendapatan yang hilang bagi seluruh seniman terdampak Covid-19. Namun, jika sulit untuk dilakukan dalam waktu dekat, ada beberapa alternatif kebijakan untuk mengurangi beban seniman dan organisasi seni di Indonesia dalam menghadapi masa sulit ini,” papar Hafez.

Kebijakan yang Membantu

Kebijakan yang diharap itu antara lain yang memudahkan seniman agar tetap dapat memproduksi karya. Ini dapat dilakukan dengan memastikan infrastruktur digital dalam kondisi prima agar seniman dapat bekerja secara daring, serta memudahkan seniman mengakses ruang pertunjukan milik pemerintah maupun swasta untuk kebutuhan produksi. Untuk hal ini contohnya pertunjukan tanpa penonton untuk disiarkan secara daring. Agar seniman dapat bekerja di rumah, akses bahan baku produksi karya pun perlu dipermudah. Contohnya, produsen dan toko cat lukis, kanvas, tanah liat, benang, atau bahan baku lainnya bisa memberi diskon harga maupun subsidi ongkos kirim.

Kebijakan lain yang diharapkan adalah yang memudahkan masyarakat untuk dapat mengakses karya seni. Caranya, dengan memastikan infrastruktur digital dalam kondisi prima dan terjangkau agar masyarakat dapat menikmati karya seni melalui internet. Pemerintah juga dapat menangguhkan atau mengurangi pajak seperti Pajak Hiburan dan Pajak Pertambahan Nilai bagi transaksi karya seni, agar daya beli masyarakat terjaga.

Yang ketiga, menekan kerugian yang harus ditanggung seniman akibat pembatalan dan penundaan kegiatan seni. Pemerintah maupun swasta dapat menangguhkan atau mengurangi biaya sewa bagi kegiatan seni yang dibatalkan atau ditunda di infrastruktur miliknya, serta tidak membatalkan pembayaran program seni yang telah dipersiapkan. Pemerintah bisa juga memberikan insentif pajak dan retribusi bagi usaha di bidang seni yang terdampak wabah Covid-19.

Pentingnya Jaring Pengaman

Kondisi pandemi menyebabkan seniman sulit untuk memonetisasi karyanya. “Jangankan seniman yang masih gagap teknologi, bahkan seniman yang sudah mampu melakukan alih wahana berkarya ke platform digital saja merasa pendapatan yang layak selama pandemi merupakan sebuah tantangan. Maka, hal yang paling mungkin dilakukan adalah mencari sumber pemasukan lain di luar monetisasi karya. Misalnya saja membuka kelas-kelas daring berbayar untuk masyarakat yang ingin mengisi waktu karena harus mengurung diri di rumah,” kata Hafez.

Dari anggota dan jaringan Koalisi Seni, keluhan yang paling sering muncul adalah hilangnya sumber pendapatan akibat pembatalan acara seni dan menurunnya daya beli masyarakat secara umum.

Keaadaan ini memicu terbentuknya sejumlah jaringan ruang seni budaya untuk memperjuangkan nasib pekerja seni. Seperti misalnya jaringan yang bernama KRUSIAL (Kolektif Ruang Seni dan Budaya Anti Loyo, beranggotakan antara lain MBloc Space, Pasar Seni Ancol, Komunitas Salihara, NuArt Sculpture Park, Rumah Sanur, dan sebagainya.) 

Mereka melakukan advokasi ke pemerintah agar mengeluarkan kebijakan pemulihan. Ruang seni budaya yang tergabung dalam KRUSIAL menyatakan sudah kewalahan untuk membayar sewa gedung dan biaya operasional. Bahkan beberapa di antaranya sudah melakukan pemutusan hubungan kerja pada pegawainya karena tidak mampu lagi membayar upah.

Ada anggapan bahwa seniman cenderung idealis, tidak mau menerima Bansos. Menurut Hafez, bisa jadi benar kalau dalam kondisi normal. Tapi di masa pandemi ini nampaknya seniman dan pekerja seni lainnya justru menagih peran pemerintah untuk memberikan jaring pengaman sosial. 

Kemendikbud sudah membuka pendataan pekerja seni terimbas pandemi, dan jumlahnya lebih dari 37.000 orang. Tetap Bansos bukan solusi utama. Mereka lebih memerlukan 

Jaring pengaman sosia. “Apabila negara gagal memenuhi hal tersebut, jangankan untuk tetap berkarya, para seniman dan pekerja seni terdampak mungkin terpaksa untuk meninggalkan seni dan alih pekerjaan demi bertahan hidup,” ungkap Hafez

Sejauh ini sudah ada sejumlah inisiatif kolaborasi swadaya di kalangan seniman untuk saling membantu. Seperti mendirikan dapur umum, membuat karya bersama, menggalang dana sumbangan masyarakat, dan sebagainya. Namun, tidak diketahui seberapa lama mereka tetap mampu bertahan apabila pandemi ini terus berkepanjangan.

Berdasarkan pengamatan Hafez, seniman yang selama ini bekerja dekat dengan masyarakat sebagaimana terjadi dalam skena seni tradisi justru memiliki kemampuan bertahan yang lebih baik ketimbang koleganya yang berkarya di kota yang cenderung soliter dan berkegiatan bersama komunitasnya saja.

“Karena kegiatan berkarya seniman tradisi biasanya erat hubungannya dengan daur hidup masyarakat sehari-hari, mereka tidak bergantung pada industri seni yang masif sebagaimana seniman kontemporer. Penutupan gedung kesenian, larangan produksi film, hingga pembatasan perjalanan antarkota tidak akan berpengaruh banyak kepada para seniman tradisi. Selama masih ada acara pernikahan, perayaan panen, dan upacara adat lainnya, selama itu pula seniman tradisi menemukan tempat untuk berkarya. Selain itu, banyak dari seniman tradisi di kampung tidak menggantungkan pendapatannya hanya dari seni. Tidak jarang mereka juga bekerja sebagai petani, guru, pemuka agama, dan sebagainya,” jelas Hafez lebih jauh.

Luar biasa memang geliat seniman dan pekerja seni ini. Mereka bagai bertahan hidup dengan cara apapun. Namun hatinya tetap tak bisa berpaling dari seni.

Yakinlah kawan, badai pasti berlalu.

Foto: Dokumentasi KSI

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara