Panduan Teknis Pekerja Seni Tetap Berkarya di Masa Pandemi

Selama ini pekerja seni yang bersinggungan dengan dunia pertunjukan seperti menghadapi dilema. Di satu sisi ingin bertahan selama pandemi COVID-19, namun di sisi lain khawatir jika berkarya justru akan membahayakan dirinya juga masyarakat.

Seolah ingin menangkal dilema tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Panduan Teknis Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) di Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif dalam Masa Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat.

Bisa dibilang, ini adalah sebuah protokol kesehatan yang baku bagi para pekerja seni dan budaya untuk tetap berkarya di tengah pandemi.

“Kemendikbud mendorong kegiatan kebudayaan agar tetap hidup di masa sulit ini dengan memastikan kesehatan para pelaku budaya. Para pelaku budaya sekarang punya payung hukum untuk berkegiatan dengan dikeluarkannya SKB ini. Tentu saja pelaksanannya perlu disesuaikan dengan penetapan status keamanan oleh kepala daerah,” ujar Himar Fard, lewat keterangan resmi yang diterima Sakseni, Rabu (22/7/2020).

Panduan teknis pencegahan dan pengendalian COVID-19 di bidang kebudayaan dan ekonomi kreatif ini merupakan protokol kesehatan wajib bagi penyelenggara kegiatan atau layanan seperti museum, taman budaya, galeri, sanggar, padepokan, ruang pamer seni lainnya, serta bioskop, dan ruang pertunjukan, hingga produksi audio visual.

Lalu apa saja protokol kesehatan yang ditetapkan dalam SKB tersebut? Sebenarnya hampir mirip dengan protokol kesehatan yang diberlakukan di berbagai ruang publik seperti perkantoran dan pertokoan, di mana pengelola wajib melakukan pendataan pekerja dan menerapkan kebijakan screening self assessment bagi para pekerja yang masuk.

Selanjutnya, penggunaan masker diwajibkan, begitupun dengan melakukan kebersihan dengan mencuci tangan atau menggunakan disinfektan secara berkala pada area kerja dan area publik.

Salah satu pertunjukan seni tari (foto: Genpi)

Pihak pengelola juga harus menyediakan fasilitas cuci tangan dengan sabun yang memadai dan mudah diakses oleh pekerja maupun pengunjung, khususnya di tempat masuk dan keluar area pelayanan, serta menyediakan tempat sampah khusus untuk membuat alat pelindung diri yang telah digunakan.

Penngecekan suhu badan bagi seluruh pekerja dan pengunjung harus dilakukan di pintu masuk. Jika ada yang kedapatan suhunya di atas 37,3 derajat celcius setelah dilakukan dua kali pemeriksaan dengan jeda 5 menit dari pemeriksana pertama, maka tidak diperkenankan masuk dan diminta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

Petugas yang melakukan pengukuran suhu wajib dilengkapi alat pelindung diri yang memadai, seperti masker, sarung tangan, dan pelindung wajah (face shield). Seluruh area juga harus memiliki petunjuk keselamatan yang mudah diakses bagi seluruh pengunjung di titik strategis.

Selain itu, pengelola juga harus mengatur waktu kerja agar pekerjanya tidak tertumpuk di waktu yang sama, begitupun dengan pengunjung. Pengaturan jumlah kursi, jarak tempat duduk, hingga kapasitas ruangan menjadi hal yang wajib diterapkan.

Sekedar informasi, SKB bernomor 02/KB/2020 dan KB/1/UM.4.00/M-K/2020 ini dikeluarkan dengan mempertimbangkan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi dan Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum.

Dengan adanya panduan yang baku seperti ini, tentunya para pekerja seni bisa tetap berkarya tanpa harus khawatir tertular COVID-19. Namun, itu semua tentunya membutuhkan partisipasi seluruh untuk selalu tertib menaati protokol yang ada.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Berhenti

Baca yang lain

Kenapa Seni Harus Bertahan di Tengah Pandemi?

Banyak yang nyinyir ketika ada program Bantuan Sosial (Bansos) bagi pekerja seni. “Yang terkena dampak pandem kan bukan cuma seniman, tapi banyak rakyat menengah ke

Masker sebagai Karya Seni, Kenapa Tidak?

Hei, korban positif Covid-19 sudah nyaris  menuju ke angka 30 juta di sentero dunia. Indonesia saja sudah lebih dari 200.000. Itu baru yang terdata, bagaimana

Pertama Kali Tampil Digital, Musim Seni Salihara

Kondisi pandemi cukup sudah membuat seniman mandeg, kini saatnya kembali berkarya. Komunitas Salihara paham betul ini, sehingga akan segera adakan gelaran Musim Seni Salihara secara